Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

AHY Sudah Dingin, Elite Demokrat Masih Panas

Senin, 4 September 2023 08:43 WIB
Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menikmati akhir pekan bersama istri dan anaknya. (Foto: Instagram AHY)
Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menikmati akhir pekan bersama istri dan anaknya. (Foto: Instagram AHY)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tidak butuh waktu lama untuk ‘cooling down’, setelah gagal menjadi Cawapres Anies Baswedan. Namun, sikap berbeda ditunjukkan elite Demokrat, yang masih panas karena Anies lebih memilih Ketum PKB, Muhaimin Iskandar alias Imin.

Sudah dinginnya AHY ditunjukkan lewat beberapa unggahan di media sosialnya. Di akun Instagramnya, putra sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini sudah bisa tertawa lepas saat menikmati hari liburnya bersama keluarga.

Dari beberapa unggahan, AHY terlihat sudah legowo dengan pilihan Anies. Dia pun bisa santai jalan-jalan sore naik Vespa bareng istri dan anak sambil mencari tempat makan.

Namun, tidak dengan elite-elite Demokrat lainnya. Mereka tetap menyerang baik di dunia nyata, maupun di dunia maya. Misalnya, Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat, Syarief Hasan masih terbawa perasaan dan terus meluapkan kemarahannya kepada Anies. Syarief tidak terima, karena pemilihan Imin sebagai Cawapres Anies dilakukan mendadak dan sepihak.

Menurut Syarief, Anies yang diusung Demokrat sebagai Capres dari Koalisi Persatuan telah menjanjikan AHY menjadi Cawapres. Ia menekankan, seandainya Anies memberitahu niatnya untuk memilih Imin, mungkin kekecewaan Demokrat tidak seperti sekarang.

Baca juga : SBY: Untung Ditelikung Sekarang, Demokrat Masih Ditolong Tuhan

“Terus terang saja, kami hanya mempermasalahkan adalah menyangkut moral etika Anies di dalam memenuhi komitmennya,” ucap Syarif, kemarin.

Sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Sikap Anies yang memilih Imin, membuat Demokrat hengkang dari Koalisi Perubahan. Syarief pun meminta agar nama koalisi NasDem, PKB, dan PKS tidak lagi memakai kata “perubahan”.

“Ide perubahan adalah original dari PD (Partai Demokrat), sehingga tetap menjadi tema misi PD ke depan,” tegas Syarief.

Sikap serupa ditunjukkan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Benny K Harman. Dia menyatakan, ada dua hal yang membuatnya kecewa berat terhadap Anies. Pertama, karena sebelumnya Anies sudah meminang AHY secara resmi untuk jadi Cawapres. Hal itu disampaikan Anies lewat sepucuk surat yang ditulis tangan. AHY lalu memberi jawaban, siap menjadi Cawapres Anies.

“Namun, di saat yang sama, diam-diam mengajak Ketum PKB Cak Imin jadi Cawapresnya dan dideklarasikan,” tulis Benny, di akun Twitternya, kemarin.

Baca juga : Hensat: AHY Ditinggal Anies, Demokrat Dapat Ujian Berat

Pemilihan Imin, kata Benny, tidak dibicarakan lebih dulu dengan Demokrat. Hal itu hanya diketahui anggota NasDem dan PKS. Menurutnya, dalam kerja sama politik, semua hal harus dibicarakan dengan duduk bersama. Didiskusikan dan diselesaikan. “Itu adabnya,” ujarnya.

Kedua, Anies secara sepihak membentuk koalisi baru dengan melibatkan PKB. Bahkan, PKS setuju dengan hal itu. Sehingga, Demokrat dicampakkan begitu saja.

Anggota Komisi III DPR itu kemudian mengutip perkataan Presiden Jokowi, bahwa sudah tidak ada lagi adab dan kesantunan dalam berpolitik. “Itu yang hilang. Masuk akal jika para kader marah. Kalau nggak marah, malah aneh,” pungkasnya.

Menanggapi kemarahan elite Demokrat itu, Ketua DPP Partai NasDem, Effendy Choirie atau Gus Choi menilai sikap Demokrat belum menandakan kedewasaan dalam berpolitik. “Aneh bin Ajaib. Perlu kewarasan dalam politik,” katanya, saat dikonfirmasi, tadi malam.

Kata dia, sikap Demokrat semakin aneh saat meminta NasDem mengubah nama Koalisi Perubahan. Gus Choi mengklaim, kata perubahan merupakan slogan yang sudah lama digunakan NasDem. 

Baca juga : PKB Tegaskan Poin-poin Piagam Deklarasi KKIR Masih Berlaku Hingga Saat Ini

Gus Choi menjelaskan, ketika NasDem dibentuk pada 11 November 2011, Ketum NasDem, Surya Paloh menyebut kelahiran partainya membawa gerakan perubahan, restorasi Indonesia. Sehingga partainya yang paling berhak mengusung kata perubahan. “Lihat di logo NasDem, perubahan melekat pada diri NasDem,” tegasnya.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka, edisi Senin (4/9), dengan judul “AHY Sudah Dingin, Elite Demokrat Masih Panas”

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.