Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- BPK Hormati Proses Hukum KPK, Pegawai Terlibat Akan Disidang Etik
- Kejagung Ungkap Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Terima Suap Rp 4,3 Miliar
- Pramono Sediakan Ruang Nobar Piala Dunia, Asal Jangan Ganggu Jam Kerja
- KPK Sita Rp 200 Juta dan Mobil SUV dari Kasus Suap Audit BPK
- Nama Disebut di Sidang Bea Cukai, Ini Klarifikasi Raffi Ahmad
Bersatu di 13 Pilkada
PDIP-PKS Ternyata Bukan Minyak dan Air
Minggu, 30 Agustus 2020 07:28 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dari sisi ideologi, warna, gerakan, dan kader, banyak yang beranggapan PDIP dan PKS ini sangat berlainan. Tapi, dalam politik praktis, ternyata kedua partai ini tak selamanya seperti minyak dan air. Buktinya, kedua partai ini bisa bersatu di 13 pilkada serentak yang akan digelar Desember nanti.
Kendati begitu, PKS adalah partai yang paling sedikit diajak koalisi oleh PDIP di Pilkada 2020. Sebaliknya, PDIP paling banyak berkoalisi dengan Golkar di 46 daerah. Lalu dengan PKB di 37 daerah, dengan PAN di 34 daerah, dengan Gerindra di 33 daerah, dengan Demokrat di 32 daerah, dan dengan PPP di 19 daerah.
Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto tidak merinci di daerah mana saja koalisi PDIP PKS terjadi. “Kerja sama ini dibangun sesuai dengan sejarah Indonesia di bentuk,” kata Hasto, menjelaskan alasan kenapa PDIP membangun koalisi Pilkada dengan semua partai yang lolos ke Senayan.
Baca juga : Di Pilkada, PDIP Paling Banyak Jodoh Sama Golkar
Meskipun, lanjut Hasto, PDIP tetap mengedepankan kaderisasi partai.Sikap politik yang disampaikan Hasto ini sedikit berbeda dengan apa yang disampaikan Ketua DPP Bidang Ideologi PDIP Djarot Saiful Hidayat, bulan lalu. Eks Gubernur DKI itu mengatakan, partainya sulit berkoalisi dengan Demokrat dan PKS.
Sikap PDIP juga hampir sama dilakukan Golkar. Ketum Golkar Airlangga Hartarto mengakui partainya juga berkoalisi dengan PKS di pilkada ini. “Hampir semua partai kami bekerja sama. Yang terbanyak salah satunya dengan PDIP,” kata Airlangga, kemarin.
Sementara PKS memutuskan berpartisipasi di 230 dari 270 daerah yang akan menggelar pilkada. Hingga, kemarin, PKS sudah memberikan surat keputusan rekomendasi dukungan kepada 210 pasangan calon. Mereka menargetkan meraih kemenangan 60 persen.
Baca juga : Bamsoet Ingatkan Komitmen Paslon Pilkada 2020 Tak Kerahkan Massa
Presiden PKS Mohammad Sohibul Iman optimis, kepala daerah yang diusung nya menang di sekitar 156 pil ka da. “Tentu kami ingin menang di 200 bahkan menang semuanya. Tapi itu kan mustahil,” kata Sohibul, di Markas PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta, kemarin.
Wakil Ketua Tim Pemenangan Pemilu (TPP) PKS Al Muzzammil Yusuf menjelaskan, dari 215 kursi daerah yang dimiliki PKS, partai dakwah ini diketahui siap bertarung di 213 daerah. Sementara di dua daerah sisanya PKS menyatakan abstain, salah satunya di pilkada Solo. Soal koalisi dengan PDIP, PKS menyatakan, memberikan kewenangan kepada DPD dan DPW untuk menjalin koalisi dengan partai manapun.
Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengatakan, partainya membebaskan koalisi selama mempertimbangkan suasana kebatinan masyarakat di daerah masing-masing. Dia mengatakan, koalisi dijalin selama kader merasa ada kesamaan ideologis PKS dengan karakter yang dimiliki PDIP. Anggota Komisi II DPR itu mengungkapkan, untuk kebaikan PKS siap bekerja sama dengan semua pihak.
Baca juga : Berantem Lagi dengan IDI, Terawan Banyak Ributnya
Pengamat politik dari UIN Jakarta Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, koalisi parpol di daerah lebih cair dan dinamis. Sikap parpol di daerah tidak selalu beririsan dengan posisi di pusat. Ekor tidak mesti mengikuti kepala. Alasan pertama, pertimbangan pragmatis bukan ideologis. Mereka berkoalisi untuk mendukung calon yang dianggap akan menang. Kedua, koalisi terjadi untuk memenuhi syarat pencalonan. “Kalau melihat alasan itu, tidak ada partai yang seperti air dan minyak. Semua parpol bisa bekerja sama,” kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi saat dikontak semalam.
Direktur Eksekutif Parameter Politik, Adi Prayitno menambahkan, dalam sistem presidensial sulit melihat musuh dan teman abadi. Karena yang dikedepankan adalah kepentingan. Pilkada adalah salah satu contoh bagaimana peta politik begitu cair dan fleksibel. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya