Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kenapa MRT?

Minggu, 14 Juli 2019 03:54 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Jokowi dan Prabowo bertemu di MRT. Kenapa di MRT? Karena MRT adalah “Mari Rawat Tanahair”. Ada juga yang menyebut “Mari Rekonsiliasi Terus”. Yang lain mengatakan, MRT: “Menyatukan Rakyat Terbelah”. Ya, ini tentang pertemuan Jokowi dan Prabowo di MRT, kemarin.

Pertemuan bersejarah. Alasan Prabowo, kenapa di MRT, karena dia belum pernah naik MRT. MRT hanya simbol. MRT merupakan ruang publik. Merakyat. Netral. Bukan di Istana atau kediaman Prabowo di Hambalang atau di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan. Di MRT, Presiden Jokowi menunjukkan bahwa dia tidak mau jumawa, merendahkan Prabowo dengan mengundangnya ke Istana.

Prabowo juga legowo karena tidak “memaksa” bertemu di Hambalang atau di Kertanegara. Di tempat rakyat. Netral. Alamiah saja. Penuh simbol. Di sisi lain, Prabowo juga mengakui bahwa MRT adalah hasil karya Jokowi. Jokowi juga bisa mengamininya dengan mengatakan “Saya lho yang mengeksekusi MRT, bukan gubernur DKI Jakarta yang lain. Jadi, jangan ada yang ngaku-ngaku, apalagi untuk kepentingan Pilpres 2024”. Kira-kira begitu.

Berita Terkait : Kursi Itu, Asa Rakyat

Dengan menaiki MRT, Jokowi dan Prabowo juga memberi isyarat bahwa mereka sudah satu gerbong. Mungkin belum bersatu dalam gerbong koalisi pemerintah. Itu masih perlu pembicaraan panjang. Tapi, mereka duduk bersama dalam gerbong yang membawa cita-cita yang sama: demi Indonesia Raya. Di dalam atau di luar pemerintahan.

“Masalah yang beliau (Jokowi) pikul, besar. Kami siap membantu kalau diperlukan. Kami juga meminta maaf kalau mengkritisi Bapak, sekali-sekali,” kata Prabowo. Jokowi memperhatikan, serius. Kalimat tersebut masih abu-abu. Multitafsir. Bisa di dalam atau di luar pemerintah. Oposisi atau tidak. Semuanya masih serba mungkin.

Pertanyaannya: Apakah rekonsiliasi MRT tersebut bisa menular sampai ke bawah? Bisa mengubur cebong dan kampret? Bisa menghilangkan polarisasi yang sangat keras di grass root? Inilah tantangan kedua pemimpin ini. Karena, di kubu Prabowo, ada juga pendukungnya yang kecewa. Bahkan, tagar yang mengungkapkan kekecewaan terhadap Prabowo sempat menjadi trending topic di Twitter.

Berita Terkait : Berebut Kursi

Demikian pula di kubu Jokowi, ada yang masih belum siap menerima kalau Prabowo bergabung dalam koalisi karena bisa mengurangi jatah kursi menteri mereka. Prabowo juga pernah menjadi “musuh” yang sempat dicela. Di MRT, kedua pemimpin bertekad mengubur kampret dan cebong yang menjadi simbol perpecahan.

Naik dari Lebak Bulus, keduanya turun di Senayan. Lalu makan sate. Kenapa sate? Apakah ini simbol juga? Ah, mungkin karena satenya enak saja. Lagi pingin sate. Lalu kenapa berhenti di Senayan, tidak sampai di stasiun terakhir di Bundaran HI? Sepertinya, rekonsiliasi ini baru awal. Butuh proses.

Dari Senayan sampai Bundaran HI seperti menyisakan banyak ruang dan “misteri”. Mungkin suatu saat Jokowi dan Prabowo akan menyelesaikan rutenya yang belum selesai, dari Senayan ke Bundaran HI. Mungkin. Atau, dari Senayan ke Bundaran HI akan bergabung penumpang lain. Ada penumpang gelap. Ada penumpang terang. Kawan sendiri tapi bandel, atau lawan politik yang baik, tukang ini-tukang itu, yang punya motif atau tidak.

Berita Terkait : Wajah Kabinet

Gerbong MRT itu pasti rame. Tak ada yang bisa menebak. Atau, mereka sampai juga di Bundaran HI, tapi tidak turun. Balik lagi ke Lebak Bulus. Bolak-balik terus. Rakyat hanya menonton. Terdiam melihat hiruk pikuk. Semoga tidak seperti itu. Semoga para pemimpin menaiki kereta itu, mengajak rakyat. Bersama-sama. Sampai di stasiun terakhir. Lalu semuanya bertepuk tangan. Gembira. Bahagia. ***

Tags :