Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pentas Perang Dipertontonkan Elite

Jumat, 11 November 2022 06:32 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Mendekati Pilpres 2024, suhu politik nasional terus menghangat. Saling sindir, saling serang, dan saling menjelekkan lawan politik antara elite semakin intens. Mereka seakan-akan mempertontonkan pentas perang kepada masyarakat. Tujuannya, tentu untuk menjadi “yang paling benar” sehingga bisa mendapatkan simpati publik dan meningkatkan elektabilitas partai masing-masing.

Kondisi ini tentu sangat ironis. Apalagi, di satu sisi, para elite itu kerap “menceramahi” masyarakat agar menghadapi Pemilu 2024 dengan sejuk, tenang, dan menghindari perpecahan. Mereka katanya trauma dengan keterbelahan masyarakat yang terjadi pada Pilpres 2014 dan Pilpres 2019, yang residunya masih dirasakan sampai sekarang. Namun, di lain sisi, para elite ini justru mempertontonkan kegaduhan kepada publik.

Berita Terkait : Teka-teki Capres Jokowi

Berbagai hal mereka gunakan sebagai senjata dalam menyerang musuhnya. Ada yang memakai isu lama atau cerita masa lalu untuk merusak citra lawan politiknya. Ada juga yang menggunakan isu baru agar bisa men-downgrade saingannya.

Kubu yang perang juga semakin banyak. Dulu, di Pilpres 2014 dan Pilpres 2019, kelompok yang perang hanya terbagi dulu. Kubu Jokowi dan kubu Prabowo Subianto. Sekarang, menjelang 2024, kubu ini beranak pinak. Bahkan, bukan hanya antara partai atau koalisi, di internal partai juga ada kubunya. Di antaranya, ada kubu Prabowo, ada kubu Anies Baswedan, ada kubu Ganjar Pranowo, dan kubu Puan Maharani.

Berita Terkait : Capres Musra Mau Diapakan?

Perang antara oposisi dan koalisi pemerintah juga semakin sengit. Contohnya, elite Demokrat dan elite PDIP berkali-kali “bentrok” dengan saling menghajar. Antara koalisi juga terjadi. Seperti PDIP yang bertubi-tubi menyerang NasDem, utamanya setelah NasDem mendeklarasikan Anies sebagai capres. Juga ada sindiran keras dari Gerindra atas usulan PDIP agar negara meminta maaf terhadap Soekarno.

Kalau perang antara elite ini tidak bisa diredam, bukan tidak mungkin kegaduhan serupa akan merembet ke masyarakat. Apalagi, masing-masing elite dan masing-masing parpol memiliki pendukung fanatik. Para pendukung ini akan ikut meradang saat parpolnya, saat idolanya, diserang pihak lain. Kalau kondisi ini terjadi, tentu harapan agar Pilpres 2024 berjalan sejuk hanya akan sebatas angan-angan.

Berita Terkait : Ngaku Relawan Tapi Recokin

Untuk itu, sebaiknya para elite mulai mengerem. Elite harus mampu meredam amarah. Jangan emosian dan jangan urakan. Elite harus bisa menjadi teladan yang baik bagi masyarakat. Jangan lagi menggunakan cara-cara kasar dalam meraih simpati publik.

Presiden Jokowi sudah mewanti-wanti hal ini. Jokowi mengharapkan, elite menggunakan cara saling puji dalam memenangkan kontestasi. Bukan dengan cara saling menjelekkan dan memusuhi. ■