Dark/Light Mode

Belajarlah Sampai Ke Denmark

Kamis, 9 Februari 2023 05:11 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Bagaimana rasanya menjadi negara paling tidak korup di dunia? Tanyalah ke orang Denmark.

“Sangat menyenangkan, karena investor asing yang ingin berbisnis di Denmark tidak perlu mengeluarkan uang dari kantongnya untuk suap. Ini menggambarkan lingkungan bisnis yang baik dan sehat di Denmark,” kata ketua Transparency International Denmark, Jesper Olsen.

Predikat juara dunia Denmark tersebut disematkan oleh Transparency International. Lembaga nirlaba yang berbasis di Jerman ini baru saja merilis Corruption Perception Index (Indeks Persepsi Korupsi/IPK) 180 negara di dunia.

Kalau Denmark bergembira, Indonesia justru menghadapi tahun paling mengecewakan. Rapor korupsi Indonesia jeblok. Penurunannya terburuk sejak 1995. Ada di peringkat 110. Posisi Indonesia sama dengan negara-negara Afrika yang dalam persepsi kita tertinggal jauh di belakang.

Bagi Denmark, predikat ini sudah biasa. Karena mereka sering juara. Di media Denmark, berita juara satu Corruption Perception Index ini dimasukkan ke rubrik “Kualitas Hidup”. Seperti yang ditampilkan media online The Local.

Baca juga : Gisella Anastasia, Mesra Lagi Dengan Wijin

Di Indonesia, korupsi masih menjadi masalah besar yang kualitas pemberantasannya terasa menurun. Ada obral remisi, vonis yang kian ringan, usia koruptor yang bertambah muda, wilayah dan pelaku korupsi yang kian luas, serta KPK yang sepertinya makin lemah. 

Selain itu, ada juga pejabat yang menyatakan rasa tidak sukanya terhadap Operasi Tangkap Tangan (OTT). Juga ada menteri yang meminta supaya kepala daerah tidak perlu diselidiki. 

Ini menggambarkan bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia masih menjadi “perjuangan hidup”. Bukan “Kualitas Hidup” seperti di Denmark. 

Bukti bahwa perjuangan itu kian berat, juga ditunjukkan langsung oleh kasus KSP Indosurya. Kasus ini seperti mengkonfirmasi jebloknya “rapor korupsi” Indonesia.

Kasus Indosurya disebut sebagai kasus penipuan dan penggelapan dana masyarakat terbesar dalam sejarah Indonesia. Nilainya, 106 triliun rupiah. Nasabahnya 23.000 orang. 

Baca juga : Setan Merah Diramal Mulus Ke Puncak Carabao Cup

Yang mengagetkan (atau bahkan tidak mengagetkan?), bos Indosurya yang menjadi terdakwa, ternyata divonis bebas, Selasa (24/1) lalu. Vonisnya “mengejutkan Indonesia,” kata Menko Polhukam Mahfud MD.

Mahfud saja yang punya otoritas sedemikian besar merasa terkejut, bagaimana dengan rakyat yang seolah-olah hanya bisa berdoa?

IPK atau “rapor korupsi” ini tidak bisa dianggap sepele. Ini menjadi acuan serta barometer bagi negara dan investor di seluruh dunia. 

Karena itu, Indonesia jangan hanya sekadar mempercantik diri, tapi juga harus mengobati borok-borok lama yang masih menganga. 

Indonesia jangan hanya menyiapkan karpet merah, tapi juga harus bisa menghilangkan hal-hal sepele yang selama ini tersembunyi di bawah karpet. Hal-hal sepele yang bisa menimbulkan persepsi buruk itu, seperti uang kopi, uang rokok, dan sejenisnya.

Baca juga : Negara & Aliran Sesat

Kita yakin, di Denmark tidak ada jenis-jenis uang tersebut. Wajar kalau mereka menjadi juara dunia anti korupsi. Wajar pula kalau PBB menempatkan Denmark sebagai negara paling bahagia nomor dua di dunia.

Karena itu, tuntutlah ilmu sampai ke negeri dongeng, Denmark. Semoga Indonesia bisa segera menggebrak dan menyusul dengan peta jalan yang jelas dan konkret. 

Itu harapan dan doa rakyat sembari menunggu perjuangan keras Pak Mahfud dan kawan-kawan.(*).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.