Dark/Light Mode

Dengarlah Suara-suara

Selasa, 24 September 2019 07:00 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Kita yakin DPR mau mendengarkan suara rakyat. Apalagi sudah ada gerakan demonstrasi di beberapa daerah. Apalagi negara dalam keadaan “hangat”.

Di Sumatera, Kalimantan, hutan terbakar. Di Papua, juga ikut-ikutan terbakar. Mestinya DPR mendengar suara rakyat tentang pembahasan RUU dan sebagainya.

Jarang-jarang mahasiswa bergerak serentak dalam jumlah cukup besar dan merata seperti kemarin. Paling tidak dalam beberapa tahun terakhir.

Artinya, memang ada sesuatu yang serius yang perlu didengar dan dibicarakan. Jangan sampai politik menuju arah yang sangat bebal.

Baca juga : Baik Buruk, Dulu Sekarang

Tak mau mendengar masukan rakyat. Bahkan, didemo pun, tak peduli. Teriakan para profesor dan masyarakat kampus, seperti angin lalu. Semoga tidak seperti itu.

Yang menyedihkan, kalau politik mengarah ke sikap “bodo amat. Bukan elu yang mutusin, gue yang mutusin. Elu jangan main politik. Kerja atau kuliah aja yang benar.”

Dia berkata seolah-olah rakyat tak punya arti apa-apa. Bodoh semuanya. Seolah-olah dia yang maha segalanya.

Kesombongan politis seperti ini, apa lagi kalau dilakukan secara berjamaah, yang membuat rakyat kian tak simpatik.

Baca juga : Secangkir Kopi BJ Habibie

Orang menyebutnya oligarki. Is tilah yang lebih baru: kartel politik. Mereka, segelintir elite yang menentukan segala-galanya. Mereka adalah patron, merasa lebih tahu dari rakyat.

Hitam putih rakyat, mereka yang putuskan. Di daerah, oligarki tumbuh subur. Anak, istri, menantu, keponakan, cucu dan sebagainya, semua bisa terlibat.

Di eksekutif maupun legislatif. Juga di partai. Urusan politik bisa diselesaikan dalam acara arisan bulanan keluarga besar. Urusan proyek bisa dibereskan di meja makan.

Kita khawatir politik sedang mengarah ke sisi yang lebih keras, teriakan yang lebih keras, sikap yang lebih keras, aksi yang lebih keras, dan direaksi dengan sikap yang lebih keras pula.

Baca juga : Papua Kondusif, Jangan Lengah

Ketika masing-masing berteriak, merasa benar, suara pihak lain tak lagi didengar. Yang terdengar hanya suaranya sendiri. Suara-suara lain dianggap seperti musik dari sound system rusak.

Mengganggu. Tak perlu didengar walau dilantunkan dengan nada yang indah. Orang-orang hanya ingin mendengar dari orang atau dari apa yang ingin mereka dengar.

Semoga semuanya bisa saling mendengar. Bukan seperti ayam jantan yang dengan pedenya berkeyakinan bahwa matahari terbit di pagi hari hanya karena ingin mendengar suara kokokannya yang merdu. ***

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.