Dark/Light Mode

Kekalahan Hasil Survei

Rabu, 14 Agustus 2024 00:27 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam Pemilu dan Pilkada sebelumnya, hasil survei sangat diperhitungkan parpol dalam mengusung calon. Survei telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam pertarungan politik. Calon yang punya elektabilitas tinggi berdasarkan hasil survei, selalu mendapat banyak dukungan dari parpol.

Namun, di Pilkada 2024, terjadi anomali. Hasil survei telah dikalahkan oleh "kekompakan" para parpol. Tokoh-tokoh yang punya elektabilitas tinggi, seperti Anies Baswedan di Jakarta dan Airin Rachmi Diany di Banten, terancam tak bisa maju di Pilkada 2024 karena tak punya dukungan parpol yang cukup. Demikian juga Ridwan Kamil (Kang Emil), yang harus terlempar dari Jawa Barat akibat keputusan partai. Kini, nasib Kang Emil di Jakarta juga belum jelas.

Saat ini, parpol sepertinya sudah menemukan kunci untuk mengatasi "intervensi" lembaga survei dan juga suara publik. Caranya, dengan memborong semua parpol dalam satu koalisi. Dengan cara itu, hanya calon yang diusung koalisi tersebut yang bisa maju. Untuk calon lain, walaupun punya elektabilitas tinggi, siap-siap saja gigit jari. Apalagi bila calon tersebut tidak memiliki kekuatan dan pengaruh di partai politik.

Baca juga : Jangan Lupakan Ancaman Kemarau

Dengan cara baru ini, parpol menjadi lebih leluasa menentukan calon yang bakal diusung. Siapa yang mereka kehendaki, tidak peduli memiliki elektabilitas atau tidak, bisa maju di Pilkada, bahkan bisa menenangkan pertarungan.

Cara seperti ini tentu memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya, jika kaderisasi di parpol baik, kader mereka punya jaminan untuk maju dalam Pilkada. Tak lagi terancam dengan orang luar, yang ujug-ujug bisa maju karena punya elektabilitas tinggi. Dengan kader sendiri, maka saat memimpin, nilai-nilai yang diperjuangkan parpol itu lebih mudah untuk dicapai.

Negatifnya, parpol menjadi tidak menyerap aspirasi publik. Mereka tidak akan peduli dengan keinginan mayoritas warga yang tercermin dalam hasil survei.

Baca juga : Diselamatkan Calon Independen

Munculnya strategi ini sebenarnya tidak mengherankan. Sebab, cita-cita semua parpol memang memenangkan Pemilu maupun Pilkada. Cara apa pun, selama itu sah, akan mereka lakukan. Ukuran "sah"-nya pun akan ditentukan oleh mereka.

Untuk Pilkada kali ini, cara tersebut akan sangat efektif. Sebab, para tokoh yang punya elektabilitas tinggi tidak punya waktu lagi untuk melakukan perlawanan. Mau mencalonkan dari jalur independen pun sudah tidak bisa. Karena waktunya sudah lewat.

Sedangkan untuk Pilkada ke depan, para calon dengan elektabilitas tinggi mungkin akan siap-siap sejak jauh-jauh hari. Sehingga, ketika ada tanda-tanda tak akan dicalonkan oleh parpol, mereka bisa langsung beralih ke jalur independen. Namun, orang-orang parpol juga tentu akan menyusun strategi baru, agar calon mereka bisa maju dan memenangkan Pilkada.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.