Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam sepekan ini, Presiden Prabowo dua kali mengingatkan para pejabat supaya berhemat. “Ultimatum” Presiden perlu dikonkretkan oleh para menteri dan kepala lembaga negara. Dari pusat sampai daerah.
Untuk mewujudkannya, perlu kebijakan dan langkah-langkah teknis, konkret serta tegas. Jangan sampai “ultimatum” ini dianggap angin lalu atau sekadar imbauan tak bertenaga.
Kita ingat, imbauan serupa pernah juga disampaikan presiden-presiden sebelumnya. Bahkan, di era Presiden SBY, ada pencanangan “Gerakan Penghematan Nasional”.
Imbauan berhemat kembali disampaikan Presiden Prabowo saat memberikan arahan di acara apel Kasatwil Polri 2024, di Akademi Kepolisian, Semarang, Jawa Tengah, Rabu 11 Desember 2024.
Baca juga : Jadi Pendekar Di Kementerian
Presiden Prabowo meminta kepolisian berhemat dan efisien dalam mengelola anggaran. Misalnya dengan mengurangi acara-acara seremonial. Kalau perlu, cukup potong tumpeng di markas.
Sebelumnya, saat membuka Sidang Tanwir dan resepsi Milad ke-112 Muhammadiyah, di Kupang, Rabu (4/12/ 2024), Presiden juga meminta menteri menteri Kabinet Merah Putih untuk mengurangi perjalanan ke luar negeri demi menghemat anggaran.
Prabowo mengatakan, kalau selama lima tahun ke depan perjalanan luar negeri dapat dikurangi, anggaran negara dapat dihemat hingga 1,5 miliar dollar AS. Dana tersebut bisa untuk membangun bendungan, irigasi, sarana pendidikan, serta mendanai program makan bergizi gratis.
Sekarang tinggal implementasinya di lapangan. Karena itu, kita berharap: 48 menteri, 59 wakil menteri serta para kepala lembaga negara bisa bergerak bersama, menjadi teladan lewat langkah dan contoh-contoh konkret.
Baca juga : Lulus Dari Tes Kehebohan
Para menteri jangan justru “berlomba lomba” meminta topup dan kenaikan anggaran. Bahkan, ironinya, ada yang melontarkan angka Rp20 triliun.
Di sinilah pentingnya keteladanan dari para pemimpin. Tanpa keteladanan, imbauan apa pun akan sulit terwujud. Keteladanan datang dari atas. Bukan dari bawah. Saat ini, keteladanan terasa masih sangat minim.
Sejauh ini, kita belum lagi menemu kan tokoh-tokoh legend sekelas Jenderal Hoegeng, Baharuddin Lopa, Natsir atau Hatta.
Walau terdengar klasik, mereka mewarisi keteladanan yang tak luntur. Keteladanan yang terus dikenang. Itulah warisan terbaik seorang pemimpin.
Baca juga : Olok-olok Jepang Dan Indonesia
Kita berharap, “virus” keteladanan menyebar dari banyak tokoh, lalu menjadi sistem yang bisa bekerja otomatis. Tak perlu imbauan. Tak perlu surat edaran.
Di saat seperti inilah kita membutuhkan tokoh yang sudah selesai de ngan dirinya sendiri. Tokoh yang bisa menjadi lokomotif. Seorang pandito.
Dia bisa datang dari mana saja. Termasuk dari kalangan menteri atau pejabat negara, atau siapa pun. Sehingga, apa yang ditekadkan Presiden Prabowo bisa terwujud.
Kita membutuhkan “pandito” dan sikapsikap pandito karena tidak ingin bangsa ini kehilangan kompas, mengalami kekosongan keteladanan serta kekeringan panutan. Itu sangat berisiko bagi sebuah bangsa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.