Dark/Light Mode

Investor, Antara Percaya Dan Cinta

Kamis, 20 Maret 2025 06:32 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Apalah Indonesia sedang “dikerjain”? Ataukah Indonesia yang harus lebih introspeksi? 

Kita ingat krisis parah 1998. Saat itu, beberapa investor internasional, kelas sangat kakap, dicurigai bermain dan mengerjai Indonesia sehingga terjerembab dalam kubangan krisis. 

Apakah sekarang terjadi lagi? Tidak bisa dipastikan. Tapi,polanya bisa sama. Indeks harga saham gabungan ambruk hampir tujuh persen pada 18 Maret 2025 lalu. Parah.

Ini anomalis. Karena, hampir semua bursa efek di Asia mengalami kenaikan positif, sementara bursa Indonesia justru terpuruk. Alarmnya berbunyi nyaring. Perdagangan dihentikan sementara. Ba nyak yang panik. Wajar. 

Bagi sebagian besar rakyat, tentu saja ini sulit dimengerti. Kehidupan berjalan biasa. Penjual takjil, nyantai saja. Petani, tetap nyangkul. Pedagang di pasar tra disional, juga tidak terganggu bahkan tidak paham. 

Baca juga : Alarm Dan Empati

Tapi, kalau tidak hati-hati dan tidak ditangani secara cermat, efeknya bisa panjang. Rakyat juga yang kena. Hatihati dalam artian, menangani kondisi ini serta hatihati dalam membuat kebijakan. 

Siapa tahu, di antara kebijakan itu ada yang tidak sejalan dengan “agenda global” (begitu istilah seorang tokoh saat kampanye pilkada lalu). 

Tidak semua kebijakan atau maksud baik itu aman serta disambut baik. Kalau pasar atau investor besar dunia tidak suka, yang baik bisa menjadi tidak aman. 

Ujungnya, bisa dikerjai antara lain lewat harga saham atau nilai mata uang. Ketika harga saham perusahaanperusahaan terkemuka nasional jatuh, pemangsanya siap menunggu. Tinggal dicaplok. Hilang.

Kalau rakyat biasa hanya bisa beli beberapa slot, investor asing yang dananya tak berseri, bisa membeli setengah atau bahkan diambil semuanya. 

Baca juga : Ikan Hiu Atau Rampas Aset

Ibarat rumah seluas satu hektar, kalau pemain kecil-kecilan hanya bisa membeli lima meter persegi, investor asing yang dananya tak berujung itu bisa membeli serumah-rumahnya. Bahkan rumah tetangga yang harganya juga jatuh, ikut dibeli. Satu kampung bisa habis diborong. 

Tentu saja banyak faktor yang mempengaruhi anjloknya harga saham. Juga nilai tukar. Bukan sekadar karena maju-mundurnya satu atau dua orang menteri. 

Apa pun kondisinya, yang paling penting bagaimana mengatasinya. Jalan keluarnya, jangka pendek dan jangka panjang.

Salah satu kuncinya: perbaikan internal. Introspeksi. Apakah ada prioritas serta kebijakan yang kurang tepat dan tidak sejalan dengan pasar. 

Dan, yang tak kalah pentingnya: menumbuhkan kepercayaan, trust. Caranya? Semua pejabat sudah tahu. Misalnya, lewat penegakan hukum yang benar serta pemberantasan korupsi yang tegas dan konsisten. 

Baca juga : “Jendela Pecah” Ratusan Triliun

Tentu, banyak lagi yang menjadi penghambat tumbuhnya trust di kalangan investor asing. Mulai daripungli ratusan ribu rupiah sampai yang ratusan miliar serta kebijakan-kebijakan lain yang dinilai tidak ramah investor.

Kadang kala di kalangan investor, kepercayaan, trust, lebih penting di banding cinta. Kepercayaan lebih realistis dan diupayakan melalui proses panjang. Sedangkan cinta, sering kali buta dan tidak logis. Tumbuhkan dan pupuklah kepercayaan. Mulai sekarang. Kalau tidak, lama-lama ciut. Habis. Hilang

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.