Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Ini alarm. Menjelang Lebaran, beberapa pasar yang biasanya ramai, dilaporkan tak seramai tahun lalu. Beberapa tempat penjualan takjil untuk berbuka puasa yang biasanya berjejer di pinggir jalan, juga tak sebanyak tahun sebelumnya.
Ini bisa menggambarkan menurunnya daya beli. Masyarakat lebih memprioritaskan belanja kebutuhan pokok, makan, minum atau kebutuhan primer lainnya.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa belanja untuk hobi dan entertain ment, dalam beberapa bulan terakhir, juga mengalami penurunan. Biasanya ini menimpa kelas menengah.
Banyaknya perusahaan yang berhenti beroperasi, menambah beban ekonomi rakyat. Kondisi ini jelas membutuhkan perhatian serius.
Baca juga : Ikan Hiu Atau Rampas Aset
Kalau tidak, urusan “perut” bisa merembet ke persoalan sosial, kemudian bisa meningkat lagi menjadi problem dan krisis politik.
Kondisi ekonomi global yang dihantui perang dagang yang makin brutal, menambah ketidakpastian. Dampaknya dirasakan sampai ke Indonesia.
Beberapa tahun lalu, alarm global ini sudah berbunyi nyaring. Hanya saja, terkadang, bangsa ini suka “panas panas tahi ayam”. Sebuah isu seringkali berusia pendek.
Para pejabat juga terlalu sibuk dengan politik kekuasaan. Akibatnya, rak yat hanya sekadar menjadi komoditi. Ter utama di saat pemilu.
Baca juga : “Jendela Pecah” Ratusan Triliun
Tiga tahun lalu misalnya, sebuah pabrik garmen berskala internasional di Wanaherang, Kabupaten Bogor mem-PHK 400 karyawannya.
Pabrik yang memproduksi berbagai macam pakaian dalam pria dan wanita merk terkenal Victoria’s Secret tersebut, mengalami penurunan permintaan dari Amerika dan Eropa.
Tiga tahun berlalu, kondisinya belum juga membaik. Perusahaan yang berhenti beroperasi, juga bertambah.
Selain perhatian ekstra serius, dan tentu saja solusi, para pejabat juga dituntut untuk bisa berempati.
Baca juga : Melupakan Banjir Dan “Oknum”
Kalau Presiden Prabowo dengan tegas mengatakan perlu efisiensi dan penghematan anggaran, para pejabat jangan melakukan sebaliknya. Ini bisa menambah “luka” rakyat.
Karena itu, berhati-hatilah. Berempatilah. Apalagi sekarang ada semacam “bersih-bersih” terhadap perilaku korup. Siapa saja bisa kena.
Di tengah kondisi yang sedang tidak baik-baik saja dan sulit diduga, jangan sampai luka rakyat bertambah dalam dan lebar. Luka rakyat bisa menjalar menjadi luka pejabat dan luka bangsa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.