Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Korupsi beratus-ratus triliun rupiah, bahkan sampai quadriliun, membuat korupsi satu triliunan menjadi sangat kecil. Seperti tidak ada apa-apanya.
“Degradasi” ini sangat berbahaya. Karena, bisa membuat korupsi yang lebih kecil, seperti ratusan miliar, menjadi sangat biasa dan wajar.
Kita ingat, kasus dana talangan Bank Century tahun 2009. Hebohnya luar biasa. DPR sampai membentuk Panitia Khusus Hak Angket.
Skandal bernilai Rp 6,74 triliun tersebut, terasa kecil di hadapan kasus-kasus korupsi sekarang. Walaupun, kasus Bank Century tetap sangatlah besar. Bahkan masuk dalam “klasemen liga korupsi Indonesia”, walaupun berada di papan bawah. Tetap saja, itu triliunan.
Munculnya kasus-kasus jumbo, jangan sampai menenggelamkan kasus-kasus yang nilainya berada di bawah. Korupsi tetaplah korupsi.
Baca juga : Melupakan Banjir Dan “Oknum”
Kalau ada pemakluman atau pembiaran, sangat mungkin, kasus-kasus korupsi yang lebih besar, bisa terjadi lagi. Akan ada pemecahan rekor lagi.
Di sinilah perlunya orkestrasi, ketegasan serta konsistensi dalam pemberantasan korupsi, terutama di level atas. Apalagi bangsa ini menganut budaya patron-client, ketika guru kencing berdiri, muridnya kencing berlari.
Teori “Jendela Pecah” membuktikan bahwa pembiaran akan melahirkan sesuatu yang lebih parah. Teori ini mendalilkan; apabila ketidakteraturan, kesalahan, pelanggaran, dan kejahatan kecil dibiarkan tanpa penindakan, maka akan lebih banyak orang melakukan hal yang sama. Dalam skala yang lebih besar dan terus membesar.
Philip Zimbardo, seorang profesor di Universitas Stanford, membuktikan dalam penelitiannya di tahun 1969. Dia menempatkan dua mobil yang sama di dua tempat berbeda. Mobil tersebut tidak memiliki plat nomor. Kapnya dibuka. Terbengkalai.
Satu mobil diparkir di daerah kumuh di Bronx, New York. Satunya lagi di Palo Alto, daerah elite di California.
Baca juga : Banjir Lagi, Ditunggu Aksinya
Hasilnya, hanya dalam tiga hari, mobil yang di Bronx, spare part-nya sudah dipreteli. Sedangkan yang di California, baik-baik saja.
Dia kemudian memukuli mobil yang di California. Pakai palu. Sampai penyok. Hanya beberapa jam, orang-orang yang lewat, mulai ikut-ikutan mempreteli mobil itu. Memukulinya sampai penyoknya kian parah.
Begitulah “jendela pecah” bekerja. Penelitian ini pertama kali dilakukan di sebuah bangunan di pinggir jalan yang jendelanya sengaja dipecahkan.
Orang-orang yang melihat kemudian melempari jendela itu. Mereka masuk ke dalamnya. Mengambil barang-barangnya. Yang lain ikut-ikutan. Akibatnya, jendela-jendela lain ikut dipecahkan juga.
Apakah “jendela pecah” itu sedang terjadi di Indonesia? Bukan hanya soal korupsi, tapi hampir di semua aspek? Kita berharap, tidak.
Baca juga : Negeri Siaga Bencana
Karena itu, padamkan api sebelum membesar. Lakukan penindakan dengan tegas. Tanpa pandang bulu. Berikan contoh. Tunjukkan keteladanan dan keseriusan serta konsistensi.
Jangan sampai bangsa ini terus memecahkan rekor demi rekor. Bukan hanya rekor korupsi, tapi banyak aspek memprihatinkan lainnya. “Jendela pecah” jangan dianggap biasa dan wajar. Daya rusaknya terlihat pelan-pelan tapi luar biasa.(*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.