Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Trump kian “menggila”. Di tengah sengitnya perang dagang, dia berani mempermalukan negara lain dengan mengatakan “kissing my a**”. Dalam bahasa hukum Indonesia, ini sudah masuk “perbuatan tidak menyenangkan”.
Tapi begitulah yang terjadi sekarang. Bulan lalu misalnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, juga dipermalukan. Dia diusir dari Gedung Putih usai adu mulut dengan Presiden Donald Trump.
Ekspresi yang cenderung kasar yang dilontarkan Trump terhadap negara yang ingin melakukan nego dengannya soal tarif, disampaikan dalam acara Partai Republik di Washington, kemarin.
Ini menggambarkan bahwa masalah nya sudah serius. Etika kalah dengan ekonomi. Ini juga menggambarkan bahwa butuh perjuangan ekstra untuk membujuk Trump. Butuh negosiator ulung untuk menaklukkannya.
Kalau tawaran beberapa negara yang datang padanya kurang memuaskan, Trump bisa mengeluarkan kalimat blak-blakan yang kurang menyenangkan.
Baca juga : Kuda Liar Trump Dan Rakyat
Sembari menunggu lengah dan melunaknya Trump, banyak yang bisa dilakukan di dalam negeri. Misalnya, menciptakan iklim usaha yang sehat sehingga bisa menarik investor asing.
Tekad yang sering dilontarkan, bahwa “di tengah tantangan selalu ada peluang” harus benar-benar diwujudkan. Bukan sekadar jargon atau retorika. Perlu ada eksen. Segera. Sat-set.
Dunia usaha di negeri ini jangan lagi berkutat dengan urusan-urusan seperti uang pelicin, uang kopi, uang rokok, uang dengar, “uang partisipasi” dan sejenisnya.
Jangan ada lagi pejabat yang memperjualbelikan pengaruh untuk memperoleh keuntungan pribadi dalam jumlah besar.
Ini persoalan “sepele”, problem klasik. Sayangnya, tak pernah beres dari beberapa puluh tahun lalu. Dampaknya, beberapa perusahaan asing bisa merelokasi usahanya dari Indonesia. Pindah ke negara tetangga yang lebih sehat.
Baca juga : Katarsis Bukan Hanya Bola
Bagi rakyat, kasus tarif Trump yang tengah menjadi pembicaraan dunia ini, terkesan seperti tidak berpengaruh. Namun, badai bisa mengintai.
Karena mahalnya tarif impor ke Amerika Serikat, maka beberapa produk Indonesia yang diekspor ke AS akan berkurang. Dengan demikian, perusahaan akan mengurangi produksi. Dampaknya, karyawan juga dikurangi. Terjadi gelombang PHK.
Karena itu, instruksi Presiden Prabowo untuk segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus PHK, bisa segera diwujudkan. Instruksi ini jangan sampai mandek di tengah jalan, macet di tingkat pelaksana.
Ini perlu diingatkan. Karena, untuk kasus korupsi misalnya, Presiden sudah sangat sering menyampaikan keresahan, bahkan kekesalannya. Namun, tingkat keberhasilannya masih jauh dari harapan.
Kita tunggu perkembangan beberapa minggu ke depan. Semoga Trump tidak semakin “liar” dan “brutal”.
Baca juga : Mudik, Rebound, Dan Piala Dunia
Semoga bangsa ini juga bisa segera memecahkan masalah dalam negerinya sendiri. Bukan hanya soal “uang kopi, uang dengar” dan sejenisnya, tapi juga banyak kasus triliunan bahkan puluhan triliun yang sempat menghebohkan. Ini masalah kepercayaan. Trust.
Ini sangat penting, lepas dari apa pun hasil negosiasi dengan Trump soal tarif bea masuk produk Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.