Dark/Light Mode

Kuda Liar Trump Dan Rakyat

Selasa, 8 April 2025 06:30 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Dunia terkaget-kaget menghadapi “kuda liar” seperti Donald Trump. Dia orang kaya, orang gila dan menganggap negaranya sebagai jaksa serta polisi dunia. Butuh perhitungan matang menghadapi orang seperti ini.

Vietnam dan China misalnya, punya dua langkah berbeda menyusul “hukuman” Trump yang menaikkan tarif bea masuk terhadap produk dua negara tersebut.

Puluhan negara lain, juga “dihukum” Trump, termasuk Indonesia. Indonesia dikenakan tarif tambahan 32 persen untuk produk-produknya yang masuk ke AS. 

Vietnam langsung gercep, berusaha menyenangkan AS dengan rencananya membeli pesawat Boeing. Sebaliknya, China justru membekukan kontrak pembelian pesawat produksi AS tersebut. Kekuatan dua negeri ini memang berbeda.

Pemimpin Vietnam juga langsung menelepon Trump. Trump mengunggah hasil pembicaraan tersebut di akun medsosnya. Dia menyebutnya sebagai “pembicaraan yang sangat produktif”. 

Kenapa diunggah di medsos? Trump sepertinya ingin mengatakan: beginilah yang seharusnya dilakukan negara-negara lain yang dikenakan tarif bea masuk sangat besar oleh AS. 

Baca juga : Katarsis Bukan Hanya Bola

Dengan mengunggah pembicaraan teleponnya dengan pemimpin Vietnam, Trump ingin mengirim pesan ke semua negara: ayo kita menuju meja perundingan dan memulai semuanya dari nol. Memulai keseimbangan baru. Ayo, beli produk-produk AS, jangan hanya AS yang membeli produk negara Anda. 

Maka, bisa dipastikan, minggu-minggu ini, banyak negara yang akan mengirim utusan ke Washington. Untuk nego, untuk membujuk Trump, yang namanya sekarang seolah lebih besar dari Amerika Serikat. 

Namun, China, sebagai musuh utama AS, bergeming. Presiden Xi Jinping menegaskan: China tidak menginginkan perang dagang. Namun, kalau itu terjadi, kami siap menghadapinya. Kami tidak akan mundur. Ibaratnya, “Lu jual, gue borong”. 

Jepang dan India melihat ini sebagai peluang. Jepang membuka peluang per dagangan baru dengan Australia dan India. 

Perdana Menteri India Narendra Modi juga melihat gonjang-ganjing ini sebagai peluang menjadikan negaranya sebagai rantai penghubung perdagangan dunia. 

Arab Saudi megambil jalan “memutar”.

Baca juga : Mudik, Rebound, Dan Piala Dunia

Tidak langsung menembak AS. Caranya, mereka ingin mengurangi pasokan minyak ke pasar dunia. Tujuannya, untuk menekan AS. 

Bagaimana dengan Indonesia? Seperti pertandingan sepakbola, taktik dan strateginya harus matang, tepat dan terukur. 

Dua pekan lalu misalnya, ketika melawan Australia yang lebih kuat, Indonesia berani bermain terbuka. Menyerang terus. Lupa pertahanan. Mainnya gagah, lumayan enak ditonton. Namun, hasilnya: kalah 1-5. 

Sebaliknya, lima hari kemudian, ketika melawan Bahrain, Indonesia main bertahan. Penuh perhitungan. Mengandalkan serangan balik. Tampak kurang “gagah”. Tapi hasilnya positif: menang 1-0. 

Menghadapi Trump, Indonesia perlu mengukur diri. Indonesia tidak sekuat China atau Jepang. Jalan nego dan diplomasi dengan kepala tegak, sudah tepat.

Sayangnya, hampir dua tahun ini, Indonesia tidak memiliki Dubes di Amerika Serikat setelah ditinggal Rosan Roeslani, Juli 2023 lalu. 

Baca juga : Mudik Dan Kebijakannya

Kursi ini harus segera diisi oleh tokoh berpengalaman yang tepat. Dubes yang bisa bekerja di masa krisis. 

Dan yang tak kalah pentingnya, selain menghadapi Trump, solusi meng hadapi kondisi ekonomi dalam negeri yang sedang tidak baik-baik saja, termasuk melemahnya nilai Rupiah, juga perlu diseriusi. 

Jangan sampai kondisi ini merembet dengan cepat ke perut rakyat. Kalau rakyat lapar, otak tak bisa mikir. Langkah dan tindakannya bisa lebih liar dari si “kuda liar” Donald Trump. Dunia sedang dalam mode tak terduga.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.