Dark/Light Mode

Perang Dagang, Bukan Pelanduk

Selasa, 15 April 2025 06:40 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Melawan Amerika Serikat, China menerapkan prinsip, “ente jual ane borong”. Setinggi apa pun tarif yang dikenakan terhadap barang-barangnya yang masuk ke AS, China akan terus membalasnya. Tidak ada kata menyerah.

Kenapa China sangat berani? Karena China sudah sangat kuat. Sumber kekuatan itu antara lain karena berhasil menata kondisi dalam negeri. Salah satunya: pemberantasan korupsi yang berdampak tumbuhnya kepercayaan para investor. 

Pemberantasan korupsi tersebut bahkan mengambil jalan paling keras: menghukum mati para koruptor. 

Secara resmi, tidak diketahui sudah berapa koruptor yang dihukum mati di China. Amnesty International menyebut, jumlahnya ribuan per tahun. China menetralisir dan mengklaim, tiap tahun jumlahnya menurun. 

Baca juga : Perang Dunia, Perang Rakyat

Berapa pun jumlahnya, China sudah berhasil mengirim pesan kepada para investor di seluruh dunia: silakan tanam modal ke sini, kami akan melindungi investasi Anda. Jangankan kelompok masyarakat, pejabat pun akan kami hukum mati kalau berani korup dan main-main. 

Pesan ini relatif sukses, walau Indeks Persepsi Korupsi China tak mengalami perbaikan signifikan. Namun, hasil riset Transparency International mencatat sisi positif: 84 persen responden menganggap pemerintah berhasil mengatasi korupsi.

China menikmati kampanye tersebut. Kemajuan ekonomi diraih. Hanya dalam waktu 30 tahun, dengan empat presiden, dari Deng Xiaoping sampai Xi Jinping, China berhasil menjadi negara super power ekonomi dunia. Eropa dilampaui. Amerika dilewati. 

Wajar kalau kemudian Amerika khawatir. Presiden Trump yang awalnya sangat pede menaikkan tarif gila-gilaan terhadap produk China yang masuk ke AS, sekarang terlihat mengendor. Ada kekhawatiran, kebijakan Trump akan menjadi “senjata makan tuan”. 

Baca juga : Nego Tarif Dan “Uang Kopi”

Apalagi sekarang, secara politik, China terlihat lebih lincah membangun aliansi. Pada 30 Maret 2025, setelah Trump menaikkan tarif, China bersama Jepang, dan Korea Selatan menggelar dialog ekonomi pertama mereka dalam lima tahun. Selama ini, Jepang dan Korea dikenal sebagai sahabat Amerika. 

Safari Xi Jinping juga berlanjut ke Asia Tenggara dengan mengunjungi Vietnam, Malaysia, dan Kamboja pada 1418 April.

Saat tiba di Hanoi, Vietnam, kemarin, Xi Jinping menyebut Vietnam sebagai “kawan dan saudara”. Ini strategi meng ambil hati ala Asia. 

Kita juga sudah lama mendengar ajakan “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Tampaknya ini akan semakin relevan. Tidak perlu banyak-banyak, cukup satu aspek saja dulu: Pemberantasan Korupsi. 

Baca juga : Kuda Liar Trump Dan Rakyat

Dari Amerika Serikat, Indonesia juga perlu berguru. Bagaimana negara Paman Sam mengalami dan menghadapi pasang surut. Bagaimana AS bertransformasi menjadi negara super power di banyak bidang, dari perfilman sampai bursa keuangan dan persenjataan. 

Perang dagang antara dua raksasa, AS dan China tampaknya belum akan berakhir. Salah seorang senator AS bahkan menyebut, kalau perlu terapkan tarif seribu persen untuk produk China.

Itulah pentingnya kita secara serius menyiapkan dan menata berbagai kebijakan dalam negeri, termasuk pemberantasan korupsi.Lepas dari ada tidaknya perang dagang. 

Kita tidak ingin, bangsa ini menjadi pelanduk di antara kaki-kaki gajah yang sedang bertikai. Kalaupun itu terjadi, kita sudah siap. Sudah antisipasi. Tidak tergopoh-gopoh. Bukan “tiba masa - tiba akal".

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.