Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Sangat disayangkan. Uang Bansos dipakai untuk main judi online. Jumlahnya tak tanggung-tanggung. Hampir satu triliun rupiah. Tepatnya Rp 957 miliar. Itu data 2024.
Data sedih yang baru dirilis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) tersebut menggambarkan bahwa judi online, semakin meresahkan walaupun kita mendengar kabar sekian ribu situs sudah diblokir.
Di Indonesia, ada sekitar 9,7 juta pemain judi online. Sebanyak 571.410 orang diantaranya adalah penerima Bansos!
Fenomena ini sangat serius. Perlu segera dicari jalan keluarnya. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menegaskan, pemerintah akan mencabut bantuan sosial bagi penerima yang terbukti menggunakannya untuk judol. Kita menunggu langkah yang akan diambil.
Baca juga : Bukan Kisah Satu Babak
Namun, jangan juga dilupakan bahwa akses judi online yang sangat mudah, perlu mendapat perhatian serius.
Judi online yang bisa “menyamar” sebagai situs biasa, seperti permainan game umumnya, juga perlu mendapat perhatian. Jangan dianggap enteng.
Kontrol usia yang sangat longgar, juga sudah sangat meresahkan. Tidak sedikit anak-anak yang menjadi korban. Pada 2024, menurut Kementerian Komdigi saat itu, jumlahnya mencapai 80.000 anak. Usianya masih di bawah 10 tahun.
Dalam kasus ini, jangan sekadar menuding pemain judolnya. Atau penerima Bansosnya. Ini persoalan sistemik. Salah satu penyebabnya: kemiskinan. Judi, dianggap sebagai jalan pintas untuk keluar dari jerat kemiskinan.
Baca juga : Menjaga “Sang Penjaga”
Pada Maret 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 25,22 juta penduduk miskin di Indonesia. Jumlah ini setara dengan 9,03 persen dari total populasi.
Namun, Bank Dunia menggunakan standar yang berbeda, sehingga menghasilkan angka yang lebih tinggi.
Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada 2024, versi Bank Dunia, mencapai 194,4 juta orang. Jumlah yang sangat dahsyat. Mencapai 68,2 persen dari total orang Indonesia. Perbedaan angka antara BPS dan Bank Dunia disebabkan oleh perbedaan standar garis kemiskinan yang digunakan.
Yang tak kalah pentingnya yakni pengawasan Bansos. Jangan dilepas begitu saja. Perlu ada kontrol yang ketat supaya tidak disalahgunakan. Termasuk untuk judi online.
Baca juga : Menyikapi Viral Pacu Jalur
PPATK belum mengeluarkan data terbaru untuk 2025. Kalau jumlah penerima Bansos yang menggunakan dana Bansos untuk judi online semakin meningkat, maka persoalannya kian serius. Alarmnya sudah sangat nyaring. Penangannya tidak bisa sambil lalu.(*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.