Dark/Light Mode

Hilangnya Keterkejutan

Kamis, 14 Agustus 2025 06:18 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Setiap pekan, ada saja “pemain” baru yang tampil dalam serial kasus korupsi di Indonesia. Nilainya juga sangat besar. Bahkan, kasus triliunan rupiah terdengar sangat biasa.

Sungguh berbahaya kalau “pertunjukan korupsi” ini direaksi sama seperti entengnya menonton drama televisi. Atau, dianggap lumrah “karena mereka juga melakukannya”.

Sungguh berisiko kalau kasus yang menjadi menu mingguan atau bahkan harian ini, diyakini sebagai “kewajaran birokrasi”. Atau, “saya hanya menjalankan perintah”. Atau, “yang kami ambil hanya puluhan miliar, sementara yang lain mengkorup puluhan bahkan ratusan triliun”.

Kalau “prinsip” seperti itu berkembang luas, artinya alarm sudah meraung-raung. Sangat nyaring. Rakyat pun bisa ikut tertular dan mereaksinya dengan sangat biasa. “Virus anggap biasa” ini sungguh berbahaya.

Baca juga : Pandito Dan Anak Muda

Kalau Hannah Arendt masih hidup, mungkin dia akan geleng-geleng kepala melihat fenomena ini. Dia akan terkesima bahwa “konsepnya” bisa relevan di Indonesia.

Dalam persidangan Eichmann tahun 1961, Arendt memperkenalkan konsep “banalitas kejahatan”. Penulis dan wartawan Amerika Serikat ini melihat, Eichmann, seorang arsitek pembantaian Yahudi, bukanlah seorang monster. Dia hanya pegawai biasa. Memakai jas rapi. Rambut klimis. Tatapannya tidak ganas. Dia mengaku hanya menjalankan perintah.

Dalam kasus-kasus korupsi, apakah konsep “banalitas kejahatannya” Hannah Arendt akan merasuki bangsa ini?

Apakah Indonesia akan semakin kehilangan rasa terkejut dan semuanya menjadi biasa? Apakah keteladanan dari para pejabat akan semakin langka?

Baca juga : Gaspol Atau Injak Rem?

Jangan sampai itu terjadi. Jangan sampai dalih serta “pembelaan birokratis” dalam kasus-kasus korupsi menjadi pemakluman tindak korupsi.

Jangan ada lagi dalih bahwa “saya tidak tahu itu gratifikasi.” Atau, “saya cuma disuruh.” Atau, “saya pikir itu bagian dari prosedur biasa.”

Kita tidak ingin korupsi dianggap biasa karena “semua orang melakukannya”. Karena itu, kita berharap ada tembok pembatas. Ada ketegasan, keteladanan serta perbaikan institusi secara sistemik. Ada integritas personel, di segala level, yang semakin tinggi.

Jangan sampai kasus-kasus besar yang menjadi menu mingguan ini terdegradasi menjadi sekadar pertunjukan sebulan-dua bulan. Atau, sekadar “membongkar kasus”, apalagi kalau kasusnya tidak dituntaskan.

Baca juga : Perkuat Semua Lembaga Hukum

Yang memprihatinkan kalau rakyat hanya menikmati pertunjukkan itu dengan santai, sambil ngopi dan sedikit mengumpat. Tanpa bisa berbuat apa-apa.

Bangsa ini jangan terus disuguhi serunya Klasemen Liga Korupsi yang saling berkejaran layaknya menonton balapan atau tragedi dalam drama menyedihkan.

Bangsa ini jangan lagi kehilangan banyak momen dan waktu. Apalagi kehilangan akal sehat. Jangan. Masih banyak peluang untuk menumbuhkan optimisme melalui banyak gebrakan, ketegasan, keteladanan, dan aksi nyata.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.