Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto merilis dua istilah baru: vampir ekonomi dan serakahnomics. Istilah ini merupakan diagnosis paling tepat untuk memotret situasi dan kondisi Indonesia, sekarang maupun di masa lalu.
Dua istilah ini diharapkan bisa memberi indikasi kuat bahwa perubahan sedang berlangsung. Diharapkan, peta jalan paling cepat, lancar, dan terang, sudah ditemukan.
Lalu apa selanjutnya? Tindakan tegas, konkret, konsisten dan berkelanjutan menjadi kuncinya. Jangan sampai, diagnosis dan peta jalan yang sudah sangat tepat dari Presiden ini tidak bisa menemukan obat mujarab.
Obat mujarab tersebut berupa kebijakan-kebijakan yang memihak rakyat. Kemudian penegakan hukum yang berkeadilan. Dan yang tak kalah pentingnya: sistem ekonomi dan politik yang anti serakahnomics dan anti-vampir ekonomi.
Baca juga : Belajar Dari Panggung Hiburan
Ketika meluncurkan Koperasi Desa Merah Putih di Klaten, Jawa Tengah, Senin (21/7/2025) Presiden Prabowo menegaskan, parasit penghisap darah, vampir ekonomi adalah pengusaha-pengusaha yang mencari keuntungan di atas penderitaan rakyat. Termasuk penderitaan para petani.
Serakahnomics merupakan praktik ekonomi berlandaskan ketamakan, mencuri kekayaan negara, termasuk yang dilakukan para koruptor. Walaupun sudah diingatkan berkali-kali, praktik ini, kata Presiden, nyata terjadi di lapangan.
Seolah-olah tidak ada takutnya. Karena itulah, situasi dan kondisi ini tak bisa dihadapi dengan biasa-biasa saja. Harus ekstra-luar biasa. Karena, ketika sudah “diancam” Presiden pun, praktik serakahnomics dan vampir ekonomi masih berlangsung. Ini sudah gawat-darurat.
Karena itu, kita berharap, tekad kuat Presiden Prabowo untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, bisa berjalan mulus sampai ke bawah.
Baca juga : Sat-Set Beras Oplosan
Tekad yang sudah disampaikan berulang-ulang tersebut bisa menyebar sampai ke daerah-daerah. Tidak ada yang kendor. Tetap tegas. Tanpa pandang bulu. Terhadap siapa pun, termasuk elit ekonomi dan politik yang terkesan “tidak tersentuh”.
Saat ini misalnya, pembongkaran kasus-kasus korupsi, termasuk korupsi kakap, seperti menjadi “menu harian”. Ini sudah cukup baik.
Namun, bongkar-membongkar adalah satu aspek. Aspek lainnya adalah penuntasan hukumnya secara adil dan menyeluruh. Tidak tebang pilih.
Selain itu, aksi bongkar-bongkar ini bisa berproses menjadi sebuah sistem yang tepat, konsisten dan berkelanjutan. Menjadi sistemik.
Baca juga : Miris! Bansos untuk Judol
Ini sangat menantang. Tidak mudah. Misalnya, masih adanya pengaruh politik dalam menentukan para pejabat strategis. Ini salah satu tantangan berat.
Tantangan ini harus dihadapi. Harus dipecahkan secara serius dan tegas. Salah satunya, dengan mencari pejabat yang tepat, berkarakter pendekar hukum. Peran mereka sangat menentukan dan strategis. Separuh wajah Indonesia ada di tangan para pejabat ini.
Melihat kondisi saat ini, kita berharap, tidak butuh waktu lama untuk menemukan ramuan obat anti-serakahnomics dan anti-vampir ekonomi. Tatap gaspol. Jangan kendor. Apalagi bangsa ini terus berkejaran dengan waktu. Terutama tahun politik, yang kalau kita terlena, tiba-tiba sudah ada di depan mata.(*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.