Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Komdisi sulit saat ini bukanlah akhir dari harapan. Bukan akhir dari perubahan. Bukan akhir dari arah. Sejarah Indonesia—dan sejarah kemanusiaan— tidak pernah ditulis dengan tinta kepasrahan. Justru pada saat gelap itulah, cahaya biasanya mulai menyusup pelan.
Bangsa ini sudah berkali-kali jatuh. Tapi selalu punya cara untuk bangkit. Hal itu karena rakyatnya, dari lorong-lorong sempit dan gang-gang sunyi, masih menyimpan bara nilai dan akal sehat.
Kondisi sulit saat ini bukan yang pertama. Tapi bisa jadi yang paling dalam, karena bukan hanya menyentuh politik dan ekonomi, tapi juga batin kolektif kita. Kita bukan hanya lelah, tapi kecewa. Kecewa karena nilai-nilai dilucuti, dan kita dibiarkan menonton parade kuasa tanpa rasa.
Baca juga : Dari Warga untuk Negara
Namun, di sinilah sesungguhnya peluang itu bersembunyi. Bila krisis di maknai bukan sekadar trauma, tapi miqat ruhani—sebuah titik jeda suci dalam perjalanan sejarah—maka ini bisa menjadi awal. Awal untuk bertanya ulang: bangsa macam apa yang ingin kita bangun? Manusia macam apa yang kita cita-citakan? Kepemimpinan macam apa yang sanggup melayani bukan sekadar mengatur?
Dalam tradisi spiritualitas, terutama dalam sufisme, krisis sering kali disebut sebagai tajalli: saat Tuhan “menyingkapkan” sesuatu dengan cara yang mengguncangkan, agar manusia sadar bahwa ia selama ini melupakan inti. Maka dalam konteks bangsa, barangkali ini saatnya kita bertanya: nilai-nilai apa yang telah kita tinggalkan?
Kepercayaan. Welas asih. Khidmah. Kepedulian. Itu semua bukan katakata puitis untuk pidato kenegaraan. Itu adalah fondasi yang menjadikan bangsa ini tetap punya jiwa, meskipun tubuhnya berkali-kali diguncang badai.
Baca juga : Keadilan yang Terfragmentasi
Banyak orang hari ini memilih diam. Atau sinis. Atau marah. Semua bisa dipahami. Tapi setelah emosi lewat, kita perlu duduk tenang, memandang jauh ke dalam diri kita sebagai bangsa. Jangan sampai krisis ini lewat begitu saja, tanpa makna.
Sebab, yang paling berbahaya dari krisis bukan luka itu sendiri, tapi bila kita gagal menafsirkan arah. Kita tidak perlu menunggu elite bicara jujur untuk mulai bergerak. Karena kedaulatan sejati bukan hanya soal bilik suara, tapi tentang kesanggupan warga untuk bangun pagi, menjaga warung, mendidik anak-anaknya, dan menyapa tetangga yang berbeda pilihan politiknya tanpa curiga.
Itulah keberanian sejati. Dan dari keberanian-keberanian kecil seperti itulah, sejarah selalu dimulai ulang. Kita tidak sedang di akhir. Kita baru di awal.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.