Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Gelombang protes memang mereda, tapi riak-riak ekonomi belum ikut tenang. Di tengah suasana nasional yang masih rawan, Bank Indonesia mengambil langkah strategis menurunkan suku bunga menjadi 5 persen. Pasar menyambut. Saat itu, indeks saham menanjak, dan headline ekonomi dipenuhi optimisme. Tapi, di warung-warung kecil, pasar tradisional, dan terminal pinggiran kota, kehidupan masih berjalan dengan napas berat. Tidak semua orang hidup dari grafik saham.
Stimulus moneter seperti ini memang bisa menyuntikkan semangat ke sektor keuangan, tapi ia punya keterbatasan: tidak menyentuh langsung sendi-sendi ekonomi rakyat bawah. Ketika buruh harian masih menunggu proyek berikutnya, petani masih berjudi dengan harga pupuk, dan pedagang kaki lima terjepit aturan tanpa perlindungan, maka pemulihan yang diagungkan terasa bagai kabar baik yang hanya berputar di ruang elite.
Kita sedang menghadapi kenyataan ekonomi yang cacat struktural. Pandemi kemarin menyisakan ketimpangan, dan kini krisis sosial-politik memperlebar jurang. Namun, respons kebijakan masih terjebak pada pola lama: menambal dari atas, berharap bocoran tak sampai ke bawah. Sementara itu, kebutuhan masyarakat di lapisan akar rumput terus mendesak tanpa jaminan bahwa negara benar-benar melihat mereka sebagai pusat, bukan sekadar efek samping.
Dalam situasi seperti ini, perlu ada koreksi arah: dari ekonomi simbolik menuju ekonomi substantif. Reformasi struktural bukan sekadar jargon, tapi agenda konkret yang harus menyasar redistribusi aset, revitalisasi UMKM berbasis komunitas, hingga perlindungan nyata bagi pekerja informal. Pemulihan harus menyentuh rasa keadilan, bukan hanya angka pertumbuhan.
Baca juga : Demokrasi Bergetar
Kita perlu keberanian politik untuk tidak sekadar memoles permukaan, tapi menggali ulang fondasi ekonomi kita: mengurangi ketergantungan pada investasi besar tanpa efek rembesan, dan beralih ke penguatan kapasitas ekonomi warga. Jangan biarkan pemulihan ini jadi panggung statistik belaka—sementara di dapur rakyat, api tetap kecil.
Suku bunga memang bisa diturunkan, tapi beban hidup tetap naik. Maka jangan buru-buru mengklaim krisis telah usai hanya karena pasar terlihat bergairah. Ukuran kesejahteraan bangsa bukan cuma IHSG atau inflasi, melainkan apakah rakyat paling bawah bisa ikut bernapas lega.
Ekonomi yang tertatih bukanlah kutukan, melainkan panggilan untuk bersikap jujur. Selama pemulihan hanya terasa di ruang rapat, bukan di ruang makan keluarga miskin, maka tugas kita sebagai bangsa belum selesai. Dan negara yang bijak adalah negara yang memilih memulihkan dari dasar, bukan sekadar menenangkan dari atas.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.