Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Ini jelas tamparan keras. Sangat keras. Karena, sudah diingatkan, bahkan diancam, tapi korupsi jalan terus. Ini fenomena luar biasa. Sangat berbahaya.
Bayangkan, belum ada sebulan Menteri Keuangan Purbaya “mengancam” pejabat dan aparat Bea Cukai, eh, ancaman tersebut dibalas dengan pelanggaran riil. Dibalas kontan dengan tetap melakukan aksi korupsi.
Akhir Januari 2026, Purbaya bahkan mengancam akan merumahkan semua pejabat Bea Cukai dan menggantinya dengan lembaga swasta dari Swiss, seperti di era Orde Baru. Ternyata tidak (atau belum) mempan.
Rabu (4/2/2026) kemarin, Operasi Tangkap Tangan (OTT) dilakukan di Banjarmasin, Kalsel dan di Jakarta. Di Banjarmasin terkait restitusi pajak. Di Jakarta OTT terjadi di Bea Cukai.
Baca juga : Bukan Sambal Bu Rubi
Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa tak ada takut-takutnya? Sepertinya ada optimisme yang keliru. Ada keyakinan semu yang berkembang bahwa “risiko selalu menimpa orang lain. Bukan saya. Bukan hari ini. Bukan di ruang kerja saya”.
Keyakinan seperti ini berkembang karena ada perasaan “yang lain saja bisa lolos.” Atau, “saya sudah hati-hati dan bagi-bagi kok”. Atau, “KPK lagi fokus ke tempat lain, tidak mungkin ke sini”. Atau, “saya dekat dengan penguasa, enggak mungkin ditangkap”.
Ini tragis, tapi nyata. Karena, pola pikir atau optimisme yang salah ini akan menormalisasi pelanggaran kecil yang lamalama jadi besar dan meluas.
Lebih parah lagi kalau ilusi kebal risiko ini berkembang di kalangan pejabat tinggi negara. Karena, di situlah terjadinya “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Ada peniruan. Ada pemupukan. Di seluruh Indonesia. Sampai ke pelosok. Sampai ke Dana Desa.
Di sinilah tantangannya. Optimisme semu dan keliru ini harus diruntuhkan. Pihak berwenang pasti sudah tahu caranya. Tinggal eksekusi dan dijalankan.
Meruntuhkan optimisme semu tentu saja hanya sebagian kecil. Masih banyak upaya lain yang perlu dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Bukan hanya insidental atau menjadi “pemadam kebakaran”.
Perasaan tak tersentuh ini bisa diruntuhkan misalnya dengan menghadirkan risiko yang terasa dekat, personal, dan tak terelakkan.
Misalnya, tidak sekadar dengan melontarkan ancaman hukuman penjara 20 tahun. Itu terkesan abstrak. Jauh. Langsung saja, “bulan depan, BPK akan melakukan audit dan mencocokkan dokumen X dan Y”. Itu jelas. Terasa dekat, sehingga ada perasaan “kita bisa kena”.
Baca juga : “Senyum Reshuffle”
Atau, menampilkan testimoni personal. Bukan sekadar ceramah atau slogan. Misalnya, ada mantan pejabat menceritakan sendiri: “Saya pikir tadinya aman karena dekat kepala daerah. Ternyata nama saya disebut oleh staf saya sendiri.” Ini konkret. Terasa dekat. Lebih mengena.
Atau, bisa juga menekankan faktor waktu. “Hari ini mungkin aman. Tahun depan bisa jadi tidak.” Karena, banyak kasus terbuka setelah pergantian kekuasaan, bukan saat pelaku masih kuat. Ini sudah banyak buktinya. Bahkan, dalam waktu dekat, bisa saja itu terjadi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.