Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Enam bulan pertama selalu menyimpan pelajaran. Ada kebijakan yang berhasil, ada yang tertunda, ada pula yang harus diperbaiki. Namun di balik seluruh dinamika itu, tersisa satu pertanyaan yang lebih mendasar: setelah setengah tahun berjalan, apa yang masih kita miliki sebagai bangsa?
Negara sering diukur dari apa yang berhasil dibangun. Jalan baru, gedung baru, investasi baru, dan berbagai capaian pembangunan menjadi ukuran kemajuan. Semua itu penting. Tetapi sebuah bangsa tidak hanya hidup dari apa yang dibangun, melainkan juga dari apa yang berhasil dijaga. Kepercayaan publik, solidaritas sosial, rasa keadilan, dan harapan bersama tidak lahir melalui proyek pembangunan, tetapi melalui pengalaman hidup sehari-hari.
Baca juga : Pembangunan dan Makna
Ada kalanya pembangunan berlangsung cepat, sementara modal sosial justru menipis. Masyarakat menjadi semakin curiga, ruang dialog semakin sempit, dan empati perlahan memudar. Secara ekonomi mungkin ada pertumbuhan, tetapi secara sosial muncul jarak yang makin lebar. Ketika itu terjadi, negara memperoleh sesuatu, tetapi sekaligus kehilangan sesuatu yang lebih mendasar.
Tidak semua kehilangan dapat dihitung dalam statistik. Hilangnya kepercayaan tidak tercatat dalam laporan fiskal. Pudarnya harapan tidak muncul dalam indikator makro. Berkurangnya rasa saling percaya tidak langsung terlihat dalam angka pertumbuhan. Namun justru unsur-unsur inilah yang menentukan daya tahan sebuah bangsa menghadapi krisis.
Baca juga : Merawat Kepercayaan
Jonathan Sacks dalam Morality (2020) mengingatkan bahwa masyarakat yang kuat tidak dibangun hanya oleh pasar dan negara, tetapi oleh ikatan moral yang membuat orang tetap percaya, saling bertanggung jawab, dan merasa menjadi bagian dari nasib bersama. Ketika ikatan itu melemah, kemajuan material kehilangan fondasi etiknya.
Karena itu, memasuki paruh kedua tahun 2026, tugas negara bukan sekadar mempercepat program atau mengejar target baru. Yang lebih penting adalah memulihkan dan menjaga apa yang mulai rapuh: kepercayaan terhadap institusi, rasa keadilan dalam kebijakan, serta keyakinan bahwa negara masih hadir bagi seluruh warganya, terutama mereka yang paling membutuhkan.
Kadang tugas terbesar negara bukan membangun yang baru, tetapi menjaga yang masih ada. Sebab sebuah bangsa tidak runtuh ketika gagal membangun dalam satu tahun. Ia mulai melemah ketika kehilangan kepercayaan, solidaritas, dan nurani yang selama ini menopang kehidupan bersama. Menjaga yang tersisa, karena itu, bukan sikap bertahan. Itulah syarat agar masa depan masih layak diperjuangkan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.