Dark/Light Mode

Trump Kalah, Trumpisme Tidak

Minggu, 8 Nopember 2020 05:00 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Skornya masih sama: Joe Biden 264, Donald Trump 214. Angka itu bertahan sudah 3-4 hari. Tak bergerak.

Saking lamanya memastikan hasil akhir, warga Amerika menyebutnya “minggu pemilihan” bukan lagi “hari pemilihan”. Bahkan, bisa jadi “bulan pemilihan” kalau Trump tetap ngotot. Misalnya menggugat secara hukum.

Trump tampaknya akan kalah karena Biden hanya membutuhkan enam angka lagi. Meski Trump kalah tapi tidak bagi Trumpism atau Trump-isme. Isme ini diperkirakan akan terus hidup. Menjadi pola pikir dan gaya hidup. Mengakar dan melekat dalam pikiran orang Amerika. Dalam waktu lama.

Saking semangatnya, ada yang mengkhawatirkan Trumpisme akan menjadi sebuah sekte.

Berita Terkait : “Giring-giring” Sampai 2024

Kebijakan, pendapat, bahasa, sikap serta dan pandangan politik kontroversi a ala Donald Trump yang menjadi dasar dari Trumpisme tampaknya akan terus berkembang. Itu kemudian mewujud dalam rasisme, supremasi kulit putih, anti intelektual serta berpikiran konspirasi.

Semangat patriotis, populis, nasionalisme ekonomi, American First, serta kebijakan luar negeri yang agresif, serta penanganan Covid-19 yang amburadul juga kerap dikaitkan dengan Trumpisme. Setidaknya, begitulah pandangan pihak independen yang cenderung anti Trump.

Saking kuatnya kharisma dan pengaruh Trump, Pilpres Amerika kali ini disebut sebagai Pilpres yang mempertemukan dua kubu: Trump melawan Anti-Trump. Bukan Joe Biden.

Saking panasnya, Trump diposisikan sebagai juara bertahan bermulut besar yang sombong sehingga banyak yang ingin membungkam mulutnya. Banyak yang penasaran dan gregetan ingin mengalahkannya.

Berita Terkait : Indonesia, Trump-Biden, Tyson-Ali

Tak heran kalau kemudian partisipasi politik Amerika dalam pemilu 2020 menjadi yang terbesar sepanjang sejarah. Pendukung Trump berjuang mati-matian ingin mempertahankan Trumpisme, lawannya ingin menumbangkannya. Juga dengan semangat membara. Semua turun. Ikut pilpres yang kemudian menghasilkan polarisasi sangat tajam. Tapi bukan cebong-kampret. Atau, mirip-mirip.

Meski pada akhirnya Trump tumbang, Trumpisme diperkirakan akan tetap tumbuh. Berkembang. Bukan hanya di Amerika. Juga menyebar ke seluruh dunia.

Keberhasilan Trump membangun Trumpisme, setidaknya lewat kemenangannya pada 2016, bisa dipelajari dan diduplikasi para pemimpin dunia. Dengan modifikasi "kearifan lokal". Dalam pemilu misalnya.

Karena akan terus berkembang dan dipupuk, sangat mungkin pada Pilpres 2024 Trump akan maju lagi. Dia sudah punya modal: Trumpisme. Pendukungnya fanatik. Menganggapnya sebagai “dewa penyelamat” Amerika.

Berita Terkait : Kudeta Merangkak?

Walaupun nanti ada anjuran supaya memberi kesempatan ke Republikan muda, tampaknya Trump tak peduli. Kecuali ada putusan Mahkamah Agung Amerika yang membuatnya tak bisa maju lagi. Atau, ada kandidat Republikan muda yang sangat-sangat brilian. Itu pun bisa dia lawan. Dengan segala macam cara.

Karena, kekuasaan adalah candu. Bagi siapa saja, di mana pun, yang tanpa sadar, bisa melenakan. Membuai. Bikin syur.(*)