Dark/Light Mode
- Kabar Haji Isam Pimpin Operasi Karhutla Dibantah Mensesneg: Tidak Benar Itu!
- Selain Upah Pungut, KPK Juga Usut Dugaan Korupsi Proyek di Kabupaten Bogor
- Cegah Karhutla Meluas, 8 Desa Di Cengal Perkuat Sinergi
- Prabowo Dan Jokowi Jadi Saksi Akad Nikah Kasespri Rizky Irmansyah
- KPK: OTT Rektor Unsoed Jadi Momentum Perkuat Integritas Perguruan Tinggi
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi sepertinya sudah tahu “penyakit” pasca pesta olahraga. Apa itu? Merawat! Saat membuka PON di Papua, kemarin, Presiden mengingatkan sisi itu. Merawat venue setelah PON tak kalah pentingnya.
Pengalaman membuktikan. Tiga stadion yang pernah dibanggakan saat menjadi arena Pekan Olahraga Nasional (PON), ujungnya bernasib tragis. Stadion-stadion kokoh dan indah itu terbengkalai. Seperti rumah hantu.
Baca juga : KBRI Tokyo Resmikan Sentra UMKM Indonesia Di Jepang
Pada PON 2008 di Kalimantan Timur, Stadion Palaran, Samarinda, sangat megah. Sempat dipuji-puji. Mirip markas klub sepakbola Eropa. Kapasitasnya lebih dari 66 ribu penonton. Sekarang stadion berbiaya Rp 800 miliar itu tak terawat.
Empat tahun kemudian, 2012, PON digelar di Riau. Stadion Utama Riau sangat dibanggakan. Sekarang, nasibnya mengenaskan. Semak belukar tumbuh liar. Berdebu. Tak terawat.
Baca juga : PON Papua, Wushu DKI Sumbang Dua Emas
Pada 2016, PON digelar di Jawa Barat. Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) jadi stadion utamanya. Megah. Mewah.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.