Dark/Light Mode
- Resmi Jadi WNI, Mitchell Baker Siap Perkuat Timnas Indonesia
- Inggris Vs Argentina, Duel Mental Juara Menuju Final Piala Dunia 2026
- 3 Pemimpin Dunia Berkunjung Dalam Sepekan, Qodari: Bukti RI Makin Dipercaya
- Pelita Harapan Group Perluas Jaringan Ekosistem Pendidikan Di Bandung
- Purbaya: Rating BBB Dari S&P Buktikan Sentimen Negatif RI Tak Terbukti
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi sepertinya sudah tahu “penyakit” pasca pesta olahraga. Apa itu? Merawat! Saat membuka PON di Papua, kemarin, Presiden mengingatkan sisi itu. Merawat venue setelah PON tak kalah pentingnya.
Pengalaman membuktikan. Tiga stadion yang pernah dibanggakan saat menjadi arena Pekan Olahraga Nasional (PON), ujungnya bernasib tragis. Stadion-stadion kokoh dan indah itu terbengkalai. Seperti rumah hantu.
Baca juga : KBRI Tokyo Resmikan Sentra UMKM Indonesia Di Jepang
Pada PON 2008 di Kalimantan Timur, Stadion Palaran, Samarinda, sangat megah. Sempat dipuji-puji. Mirip markas klub sepakbola Eropa. Kapasitasnya lebih dari 66 ribu penonton. Sekarang stadion berbiaya Rp 800 miliar itu tak terawat.
Empat tahun kemudian, 2012, PON digelar di Riau. Stadion Utama Riau sangat dibanggakan. Sekarang, nasibnya mengenaskan. Semak belukar tumbuh liar. Berdebu. Tak terawat.
Baca juga : PON Papua, Wushu DKI Sumbang Dua Emas
Pada 2016, PON digelar di Jawa Barat. Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) jadi stadion utamanya. Megah. Mewah.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.