Dark/Light Mode

Formula 1

Setir Ngaco, Leclerc Kehilangan Feeling

Minggu, 13 Juli 2025 06:30 WIB
Charles Leclerc. (Foto: Instagram/charles_leclerc)
Charles Leclerc. (Foto: Instagram/charles_leclerc)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ferrari kembali bikin geleng-geleng kepala. Di saat tim lain mulai konsisten naik podium, skuad Kuda Jingkrak justru kembali terperosok dalam masalah teknis yang bikin kecewa.

Bukan karena strategi pit yang gagal, bukan juga karena mesin tak bertenaga. Kali ini, dalangnya adalah sistem ke­mudi alias hydrodrive yang tiba-tiba “ngaco” saat SF-25 dipacu habis-habisan dengan kecepatan tinggi.

Kejanggalan ini pertama kali diungkap Charles Leclerc usai sesi kualifikasi GP Inggris di Silverstone, Sabtu (5/7/2025).

Start dari posisi keenam, Leclerc sejatinya tampil cukup cepat di Q1 dan Q2. Tapi entah kenapa, di Q3 performanya mendadak menurun.

“Ini bukan masalah grip. Bu­kan soal keseimbangan mobil juga. Tapi ada sesuatu yang terasa sangat aneh saat melaju di kecepatan tinggi,” kata Leclerc seperti dikutip dari ESPN, ke­marin.

Baca juga : Tuntas Bahas Ribuan DIM KUHAP Hanya 2 Hari, DPR Minta Tidak Dicurigai

Tak butuh waktu lama, inves­tigasi internal Ferrari membong­kar fakta bahwa sistem hydro­drive SF-25 yang bermasalah.

Sistem ini seharusnya mem­bantu pembalap menjaga kendali mobil saat menghadapi tikungan cepat dengan beban gaya G tinggi.

Tapi alih-alih membantu, sistem justru memberikan sen­sasi kemudi yang tidak wajar, membuat Leclerc kehilangan feeling dan akurasi saat meni­kung cepat.

Masalah ini disebut hanya muncul saat mobil digeber habis-habisan, persis seperti yang terjadi di Q3.

“Ketika mobil sudah di am­bang batas, tiap sensasi kecil di setir jadi krusial. Kalau setir tidak responsif atau terasa ‘lem­bek’, itu bisa langsung bikin waktu melorot,” ungkap seorang teknisi Ferrari yang enggan dise­but namanya.

Baca juga : 30 Wamen Jadi Komisaris BUMN, Istana Pastikan Tidak Langgar Konstitusi

Bos tim Ferrari, Frederic Vas­seur, tak menampik masalah ini. “Kami memang sedang meng­hadapi sesuatu yang rumit di sisi kemudi. Tidak bisa dibahas secara detail, tapi kami tahu arah perbaikannya,” ujar Vasseur, tetap tersenyum.

Menariknya, ini bukan kali pertama power steering jadi masalah besar di Formula 1. Se­bastian Vettel pernah mengeluh keras soal feedback steering saat membela Aston Martin.

Fernando Alonso pun sampai menyesuaikan gaya balapnya demi menyesuaikan setelan hydrodrive.

Dalam kasus Ferrari, masalah ini kian krusial karena muncul di trek-trek cepat seperti Sil­verstone. Di sektor Maggots-Becketts, dimana pembalap melaju lebih dari 280 km/jam sambil menghadapi G-force lateral tinggi, kendali setir yang tak stabil bisa membuat mobil melintir atau kehilangan waktu berharga.

Carlos Sainz, rekan Leclerc, tak terlalu vokal. Tapi dari ges­turnya, tampak ia juga mengha­dapi problem serupa. “Tunggu saja di Hungaria apakah masih terjadi,” ujarnya singkat.

Baca juga : Negosiasi Tarif 32 Persen, Prabowo Berencana Temui Trump

Ferrari kini harus kerja lem­bur di sektor mekanis-hidrolik, mencari solusi sebelum SF-25 kembali dipermalukan di trek cepat lain seperti Suzuka atau Spa.

Vasseur menyebut masalah ini “bisa diselesaikan”, tapi tak menjamin beres dalam waktu dekat.

Kalau tak segera ditangani, Ferrari bukan cuma kehilangan posisi start ideal, tapi juga keper­cayaan penuh dari pembalapnya.

Lantaran di Formula 1, ke­cepatan saja tak cukup, stabilitas dan rasa percaya pada mobil jadi senjata utama. Dan saat itu hilang, hasil balapan bisa hancur dalam sekejap. [DNU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.