Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Ferrari kembali bikin geleng-geleng kepala. Di saat tim lain mulai konsisten naik podium, skuad Kuda Jingkrak justru kembali terperosok dalam masalah teknis yang bikin kecewa.
Bukan karena strategi pit yang gagal, bukan juga karena mesin tak bertenaga. Kali ini, dalangnya adalah sistem kemudi alias hydrodrive yang tiba-tiba “ngaco” saat SF-25 dipacu habis-habisan dengan kecepatan tinggi.
Kejanggalan ini pertama kali diungkap Charles Leclerc usai sesi kualifikasi GP Inggris di Silverstone, Sabtu (5/7/2025).
Start dari posisi keenam, Leclerc sejatinya tampil cukup cepat di Q1 dan Q2. Tapi entah kenapa, di Q3 performanya mendadak menurun.
“Ini bukan masalah grip. Bukan soal keseimbangan mobil juga. Tapi ada sesuatu yang terasa sangat aneh saat melaju di kecepatan tinggi,” kata Leclerc seperti dikutip dari ESPN, kemarin.
Baca juga : Tuntas Bahas Ribuan DIM KUHAP Hanya 2 Hari, DPR Minta Tidak Dicurigai
Tak butuh waktu lama, investigasi internal Ferrari membongkar fakta bahwa sistem hydrodrive SF-25 yang bermasalah.
Sistem ini seharusnya membantu pembalap menjaga kendali mobil saat menghadapi tikungan cepat dengan beban gaya G tinggi.
Tapi alih-alih membantu, sistem justru memberikan sensasi kemudi yang tidak wajar, membuat Leclerc kehilangan feeling dan akurasi saat menikung cepat.
Masalah ini disebut hanya muncul saat mobil digeber habis-habisan, persis seperti yang terjadi di Q3.
“Ketika mobil sudah di ambang batas, tiap sensasi kecil di setir jadi krusial. Kalau setir tidak responsif atau terasa ‘lembek’, itu bisa langsung bikin waktu melorot,” ungkap seorang teknisi Ferrari yang enggan disebut namanya.
Baca juga : 30 Wamen Jadi Komisaris BUMN, Istana Pastikan Tidak Langgar Konstitusi
Bos tim Ferrari, Frederic Vasseur, tak menampik masalah ini. “Kami memang sedang menghadapi sesuatu yang rumit di sisi kemudi. Tidak bisa dibahas secara detail, tapi kami tahu arah perbaikannya,” ujar Vasseur, tetap tersenyum.
Menariknya, ini bukan kali pertama power steering jadi masalah besar di Formula 1. Sebastian Vettel pernah mengeluh keras soal feedback steering saat membela Aston Martin.
Fernando Alonso pun sampai menyesuaikan gaya balapnya demi menyesuaikan setelan hydrodrive.
Dalam kasus Ferrari, masalah ini kian krusial karena muncul di trek-trek cepat seperti Silverstone. Di sektor Maggots-Becketts, dimana pembalap melaju lebih dari 280 km/jam sambil menghadapi G-force lateral tinggi, kendali setir yang tak stabil bisa membuat mobil melintir atau kehilangan waktu berharga.
Carlos Sainz, rekan Leclerc, tak terlalu vokal. Tapi dari gesturnya, tampak ia juga menghadapi problem serupa. “Tunggu saja di Hungaria apakah masih terjadi,” ujarnya singkat.
Baca juga : Negosiasi Tarif 32 Persen, Prabowo Berencana Temui Trump
Ferrari kini harus kerja lembur di sektor mekanis-hidrolik, mencari solusi sebelum SF-25 kembali dipermalukan di trek cepat lain seperti Suzuka atau Spa.
Vasseur menyebut masalah ini “bisa diselesaikan”, tapi tak menjamin beres dalam waktu dekat.
Kalau tak segera ditangani, Ferrari bukan cuma kehilangan posisi start ideal, tapi juga kepercayaan penuh dari pembalapnya.
Lantaran di Formula 1, kecepatan saja tak cukup, stabilitas dan rasa percaya pada mobil jadi senjata utama. Dan saat itu hilang, hasil balapan bisa hancur dalam sekejap. [DNU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya