Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Senat AS Sahkan Resolusi Stop Perang Dengan Iran, Trump Ngamuk
Kamis, 25 Juni 2026 07:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Di saat meja perundingan dengan Iran masih berjalan, Senat Amerika Serikat (AS) membuat keputusan mengejutkan. Mayoritas Senator menyetujui resolusi yang mewajibkan penghentian perang dengan Iran. Presiden AS Donald Trump yang masih coba menekan Iran, langsung ngamuk dengan keputusan Senat tersebut.
Keputusan Senat AS dituangkan dalam resolusi War Powers pada Selasa (23/6/2026).
Resolusi tersebut membatasi kewenangan Trump untuk melanjutkan konflik militer dengan Iran. Resolusi yang sebelumnya telah disetujui DPR AS itu, lolos di Senat dengan perolehan suara 50 berbanding 48. Usulan tersebut diperkenalkan anggota DPR dari Partai Demokrat Gregory Meeks yang juga anggota senior Komite Urusan Luar Negeri DPR.
Empat senator Partai Republik, yakni Bill Cassidy, Susan Collins, Lisa Murkowski, dan Rand Paul, bergabung dengan senator Demokrat untuk mendukung resolusi tersebut. Sebaliknya, Senator Demokrat John Fetterman memilih menolak. Sedangkan dua senator Partai Republik, Mitch McConnell dan Dave McCormick, tidak memberikan suara.
Berdasarkan Undang-Undang War Powers 1973, Presiden AS tidak memiliki kewenangan memveto resolusi tersebut. Pengesahan ini dinilai sebagai bentuk penolakan politik paling kuat dari Kongres terhadap kebijakan Trump terkait Iran. Apalagi, upaya pemungutan suara sebelumnya gagal memperoleh dukungan mayoritas sederhana di Senat.
Baca juga : Ekuador Vs Jerman, La Tri Akan Habis-habisan
Keputusan tersebut juga mengirim sinyal kuat bahwa Trump tidak memiliki dukungan politik domestik yang cukup untuk melanjutkan konflik dengan Teheran.
Penolakan terhadap perang juga terlihat dari berbagai survei opini publik. Jajak pendapat CBS News yang dirilis akhir pekan lalu menunjukkan 69 persen warga AS menilai perang dengan Iran tidak sebanding dengan biaya yang harus ditanggung. Bahkan, 78 persen responden meminta Pemerintah AS segera mengakhiri konflik.
Menanggapi keputusan Senat, Trump langsung meluapkan kemarahannya. Ia menilai resolusi tersebut justru melemahkan posisi tawar AS dalam negosiasi dengan Iran.
"Saya sudah membuat Iran berada di ujung tanduk, siap menyerah, dan bersedia memberikan hampir apa saja kepada kita," tulis Trump melalui platform Truth Social, Rabu (24/6/2026).
Menurut Trump, Iran kini menunjukkan sikap yang jauh lebih menghormati AS dibanding sebelumnya. Karena itu, ia menilai resolusi tersebut tidak tepat waktu dan tidak memiliki manfaat apa pun saat proses negosiasi sedang berlangsung.
Baca juga : Koordinasi Dengan Kejagung, LPSK Telaah Permohonan JC Dari 1 Tersangka MBG
"Memberitahu sponsor teror nomor satu di dunia bahwa AS tidak menyukai apa yang saya lakukan kepada mereka dan saya harus berhenti, berarti memberikan bantuan dan dukungan kepada musuh," kecam Trump.
Presiden dari Partai Republik itu juga secara khusus menyerang empat senator Republik yang mendukung resolusi tersebut. Ia menuding mereka telah memberikan keuntungan politik kepada musuh Amerika Serikat.
"Empat pecundang Partai Republik memilih bersama Demokrat. Para senator ini justru mempersulit pekerjaan saya, tetapi saya akan menuntaskannya dengan cara apa pun, karena saya selalu berhasil menuntaskannya," tegas Trump.
Pengesahan resolusi ini terjadi kurang dari sepekan setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan damai sementara dan memasuki masa negosiasi selama 60 hari.
Pada Rabu (17/6/2026), Presiden Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) yang menjadi dasar perundingan menuju kesepakatan damai permanen.
Baca juga : Djoko Setijowarno: Bila Diterapkan Sekarang Masyarakat Terdzalimi
Saat ini, kedua negara tengah menjalani negosiasi teknis selama masa gencatan senjata untuk menyelesaikan sejumlah isu krusial. Mulai dari penghentian operasi militer di berbagai front konflik, program nuklir Iran, pencabutan pembatasan ekonomi, hingga normalisasi pelayaran komersial melalui Selat Hormuz.
Dengan disahkannya resolusi tersebut, tekanan terhadap Gedung Putih diperkirakan semakin besar. Di satu sisi, Trump berupaya memanfaatkan momentum negosiasi untuk menekan Iran. Di sisi lain, Kongres dan mayoritas publik AS justru menginginkan konflik segera diakhiri. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya