Dark/Light Mode

Guardiola Nggak Terima Sepakbola Dianggap Biang Penyebaran Corona

Minggu, 17 Januari 2021 12:49 WIB
Pelatih Man City. (Foto : Istimewa)
Pelatih Man City. (Foto : Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pelatih Manchester City Pep Guardiola tak terima sepak bola dituding sebagai biang keladi masih tingginya kasus penyebaran Covid-19 di Inggris.

Menurutnya, fenomena tersebut terjadi bukan semata karena pesepakbola. Tetapi ada faktor-faktor lain yang bisa memicu meningkatnya penyebaran virus tersebut.

Berita Terkait : Camila Giorgi, Dicap Mirip Bintang Porno

“Di mana letak salahnya sepakbola. Para pemain sudah mengikuti protokol kesehatan. Kami juga sudah melakukan yang terbaik sesuai aturan baru pemerintah maupun ilmuwan. Semua telah kami lakukan,” kata Guardiola seperti dilansir Mirror, kemarin.

Mantan pelatih Barcelona itu lantas menilai, penuding hanya ingin melepas tanggung jawabnya dalam mengatasi penyebaran virus. Sebab, tudingan tersebut tidak mendasar dan terlihat seolah ingin mencari kambing hitam atas apa yang terjadi di Inggris.

Berita Terkait : Guardiola Ogah Terbebani Ketatnya Persaingan Liga Inggris

“Tolong! Jangan menaruh tanggung jawab kalian kepada pemain kami. Itu mutlak pekerjaan dan tanggung jawab kalian. Kami sudah melakukan tugas kami dengan baik sejak kompetisi kembali digelar,” cetusnya.

Sebelumnya, anggota Parlemen Julian Knight menuding sepakbola sebagai penyebab utama masih tingginya kasus penyebaran virus Corona di Inggris. Sebab, masih banyak pemain yang mengabaikan protokol kesehatan. Contohnya di kemenangan Manchester City 0-1 atas Brighton & Hove Albion, tengah pekan lalu.

Berita Terkait : Ingin Tetap Melatih, Guardiola Bimbang Pensiun Dini

Pemain banyak yang berkerumun, berpelukan, dan berjabat tangan saat merayakan gol Phil Foden. “Mereka itu kan orang-orang yang dihormati dan panutan masyarakat. Tapi sikap dan perilaku mereka justru tidak memberi contoh yang baik. Misalnya soal jaga jarak. Mereka justru seperti tidak punya otak dan sembrono. Kalau begini terus, Inggris bisa dlockdown lagi,” kata Julian Knight seperti dilansir Telegraph beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data John Hopkins University, jumlah kasus baru yang muncul di Inggris dalam sebulan terakhir mencapai 1,3 juta lebih. Sebanyak 21 ribu di antaranya berujung pada kematian. [KW]