Dark/Light Mode

Dua Taman Nasional di Indonesia Jadi Percontohan ASEAN ENMAPS

Rabu, 12 Februari 2025 01:22 WIB

Indonesia semakin memperkuat komitmen dalam konservasi laut. Melalui proyek ASEAN Enhancing Marine Protected Area Networks and Sustainable Fisheries (ASEAN ENMAPS), Indonesia resmi memulai langkah besar dalam menjaga ekosistem laut di kawasan Asia Tenggara.

Dalam acara ASEAN ENMAPS Inception Workshop di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, Selasa (11/2/2025), Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Satyawan Pudyatmoko, menegaskan pentingnya proyek ini bagi keberlanjutan ekosistem laut.

“Inisiatif ini berfokus pada pengelolaan jaringan kawasan konservasi laut secara efektif di Ekosistem Laut Besar ASEAN. Ini bukan hanya tentang keanekaragaman hayati, tapi juga menyangkut ketahanan pangan, ketahanan perubahan iklim, dan pertumbuhan ekonomi negara-negara ASEAN,” ujarnya.

Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, punya peran sentral dalam upaya ini. Dengan luas laut yang mencakup Coral Triangle, kekayaan biodiversitas laut Tanah Air diakui sebagai yang terbesar di dunia. Namun, ancaman seperti overfishing, polusi, dan perubahan iklim terus mengintai.

“Dampak pemutihan karang, perubahan pola migrasi ikan, dan degradasi ekosistem sudah menjadi alarm bahaya. Ini saatnya bertindak cepat untuk melindungi laut kita bagi generasi mendatang,” tegas Satyawan.

Sebagai bentuk komitmen konkret, Indonesia telah menyiapkan dua lokasi percontohan di bawah ASEAN ENMAPS, yaitu Taman Nasional Kepulauan Togean dan Taman Nasional Kepulauan Wakatobi.

Togean, yang masuk dalam Cagar Biosfer Tojo Una-Una, merupakan rumah bagi ekosistem mangrove, terumbu karang, dan padang lamun. Tak hanya itu, dua spesies ikan endemik, Paracheilinus togeanensis dan Ecsenius sp., hanya bisa ditemukan di wilayah ini.

Sementara itu, Wakatobi yang sudah menyandang status sebagai ASEAN Heritage Park menjadi primadona lain. Dari 850 spesies terumbu karang di dunia, 750 di antaranya ada di perairan ini. Ditambah lagi, keberadaan Pari Manta dan Paus Sperma semakin memperkuat posisinya sebagai kawasan konservasi laut kelas dunia.

“Wakatobi bukan sekadar situs konservasi, tapi juga bukti bagaimana ekologi dan ketahanan masyarakat lokal bisa berjalan beriringan,” kata Satyawan.

Sejalan dengan misi global, Indonesia terus menggenjot ekspansi kawasan lindung laut (MPA) hingga mencapai 32,5 juta hektare pada tahun 2030. Langkah ini sejalan dengan visi Poros Maritim Dunia dan strategi nasional dalam memperkuat ekosistem laut.

Namun, Satyawan mengingatkan bahwa luas kawasan lindung saja tidak cukup. “Tantangannya adalah memastikan MPA dikelola dengan baik, terhubung secara ilmiah, dan benar-benar memberikan manfaat bagi ekosistem serta masyarakat pesisir,” ujarnya.

Dalam proyek ASEAN ENMAPS, pendekatan berbasis sains menjadi kunci. Tata kelola yang kuat dan partisipasi masyarakat akan menjadi pilar utama, dengan keterlibatan aktif dari pemerintah, komunitas lokal, sektor swasta, hingga organisasi masyarakat sipil.

Penerapan UNDP Social and Environment Standard (SES) dan mekanisme akuntabilitas juga ditekankan agar konservasi laut ini berjalan inklusif dan berkelanjutan. Partisipasi masyarakat adat, perempuan, serta kelompok yang selama ini kurang diperhatikan menjadi aspek penting dalam proyek ini.

“Dengan memperkuat jaringan kawasan konservasi laut, kita tidak hanya menjaga biodiversitas, tapi juga mendukung perikanan berkelanjutan, mendorong ekonomi biru, serta meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir terhadap perubahan iklim,” tandasnya.

 

Videografer & Editor:

Hendrawan K Wijaya