Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Namanya Mamah Oday. Asalnya dari Bandung, Jawa Barat. Badannya mungil, senyumnya ramah, tapi semangatnya soal menjaga tanaman obat tak bisa dianggap enteng. Tahun ini, ia diganjar Kalpataru Lestari, penghargaan bagi mereka yang tak cuma pernah berjasa, tapi terus berkarya tanpa henti.
“Saya ingin menegaskan, tanaman obat yang saya lestarikan adalah tanaman obat asli Indonesia,” ucapnya penuh keyakinan di sela acara Sarasehan Kalpataru, Rabu (4/6/2025). Bukan asal-asalan. Di Taman Agro Medik (TAM) yang ia kelola, ada sekitar 900 spesies tanaman obat yang tetap terawat. Menurutnya, Indonesia bahkan disebut sebagai negara dengan kekayaan tanaman obat terbanyak kedua di dunia setelah Brasil. “Mudah-mudahan data itu belum berubah. Saya tetap menjaganya,” katanya sambil tersenyum.
Yang bikin merinding, kecintaannya pada tanaman obat bukan muncul karena Kalpataru. Justru sebaliknya. “Saya sudah jatuh cinta sejak lama. Bukan katanya orang. Saya sendiri yang merasakan bagaimana tanaman-tanaman itu menyembuhkan saya. Maka saya hormat, saya bersyukur, saya merasa dekat dengan mereka.”
Perjalanannya bukan tanpa liku. Dulu, ia berkutat di dunia kimia. Tapi hidup berbelok tajam saat dokter memvonis dirinya kena kanker. Dunia seakan runtuh, tapi Mamah Oday tak menyerah. Ia berbalik arah, memilih jalan sunyi: mempelajari kearifan lokal, menyelami ilmu warisan leluhur, dan mengenali satu per satu tanaman yang dulu sering diabaikan orang.
“Saya belajar sendiri. Tanpa guru, tanpa laboratorium megah. Tapi saya berdiri lagi. Saya hidup lagi. Itu semua berkat tanaman-tanaman yang saya cintai.”
Tantangan? Sudah pasti. Tapi Mamah Oday tidak gentar. “Setiap perjuangan pasti ada tantangannya. Tapi ini bukan sekadar pekerjaan. Ini soal menjaga kekayaan hayati bangsa. Amanah dari Tuhan untuk Ibu Pertiwi.”
Lalu, apa yang berubah setelah dapat Kalpataru? Ia hanya tersenyum. “Tidak ada yang berubah. Karena saya sudah hidup di jalan ini sejak lama. Kalpataru bukan awal. Ini amanah. Negara percaya, dan saya akan menjaga kepercayaan itu sampai akhir hayat.”
Videografer & Editor:
Hendrawan K Wijaya
Tags :
Video Lainnya