RM.id Rakyat Merdeka - Pertumbuhan bisnis online yang semakin cepat mulai menggerus industri ritel. Salah satu yang menjadi korban adalah Giant, yang harus menutup 6 gerai diberbagai daerah.
Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengaku, penutupan gerai retail secara umum disebabkan perkembangan teknologi.
“Perkembangan teknologi membuat adanya peralihan dari belanja manual ke online,” ujarnya di Jakarta, kemarin.
Ia mengungkapkan, imbas dari masalah itu yakni pengurangan karyawan di perusahaan-perusahaan retail atau PHK.
“Kalau secara umum perkembangan teknologi secara masif pasti akan berdampak terhadap pengurangan pekerja di sejumlah sektor,” ungkapnya.
Baca juga : Maruf Amin Puji Keberhasilan Jokowi Bangun Infrastruktur Langit
Seperti diketahui, enam gerai Giant yang dikabarkan akan tutup pada 28 Juli mendatang adalah Giant Express Mampang, Giant Express Cinere Mall, Giant Express Pondok Timur. Lalu Giant Extra Jatimakmur, Giant Extra Mitra 10 Cibubur, dan Giant Extra Wisma Asri.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan, saat ini bisnis ritel sudah berkembang pesat dengan persaingan yang semakin ketat.
Terlebih dengan munculnya berbagai platform jual beli online yang menawarkan produk-produk seperti yang dijual di toko offline.
“Bisnis ritel ini sekarang berubah, sehingga siapa yang terkena dampak? Saya kira Giant yang saat ini terkena dampak. Dampak dari apa? Ya atas persaingan itu sendiri. Karena produk yang dijual itu sama dengan ritel lain, baik yang di offline maupun di online. Sehingga dia melakukan amputasi dengan menutup toko mereka,” ujarnya.
Menurut dia, ada beberapa faktor penyebab lain yang membuat Giant menutup gerainya. Seperti lokasi yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman, persaingan antarsesama retail maupun pebisnis lain, permasalahan manajemen, dan sebagainya.
Baca juga : Terjun Ke Bisnis Fintech, Gojek Cs Disentil OJK
Untuk meminimalisir penutupan retail seperti Giant, ia menyarankan agar para peritel lebih peka terhadap persaingan usaha yang semakin ketat. “Khususnya pada perkembangan bisnis online yang akan lebih pesat daripada perkembangan bisnis offline itu sendiri,” ujarnya.
Bisnis online kemungkinan dapat mempengaruhi keberadaan perusahaan ritel offline yang ada, cepat atau lambat. Ia mengatakan, peritel harus lebih berhati-hati saat memilih lokasi dan segmentasi pasar.
Apalagi, grup Hero sebagai pemilik Giant adalah pemain lama di bisnis retail. Sehingga menurutnya, lokasi-lokasi gerai mereka yang ada saat ini dinilainya sudah kurang strategis berdasarkan perkembangan zaman.
“Mungkin (gerai-gerai itu) sudah 20 sampai 30 tahun yang lalu,” ujarnya.
Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia atau idEA Ignatius Untung mengatakan, penutupan gerai Giant bukan sepenuhnya karena kehadiran para pemain bisnis online.
Baca juga : Bisnis Waralaba Masih Laris Manis
“Saya belum yakin e-commerce punya kontribusi signifikan untuk merebut pangsa pasar retail offline,” ujar Ignatius.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menyebut ada perlambatan pertumbuhan komponen makanan dan minuman selain restoran, dari 5,36 persen pada 2017 menjadi 4,81 persen pada 2018. Sedangkan industri restoran dan hotel tumbuh dari 5,31 persen menjadi 5,85 persen pada periode yang sama.
Salah satu penyebabnya, masyarakat mulai beralih ke GoFood dan GrabFood. Adapun data dari Hero, menunjukkan bahwa penjualan ritel makanan juga turun sekitar 7 persen dari Rp 11,7 triliun di 2016 menjadi Rp 10,85 triliun di 2017.
Berkaca dari hal itu, Ignatius menilai, pertumbuhan restoran bukan hanya dinilai karena jasa layanan on demand makanan saja.
“Tetapi terlebih lagi karena perang diskon yang dilakukan pemain e-wallet untuk mengakuisisi pelanggan,” ujarnya. [ASI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.