BREAKING NEWS
 

Eco-Bali for Better Agro and Culture

Writer : NI LUH INTAN SUMARTINI
Editor : UJANG SUNDA
Rabu, 24 April 2024 00:02 WIB
Proses pembuatan Eco-Bali (Foto: Dokumentasi Sekolah)

Pulau Bali terkenal dengan kesan spiritualitas dan budaya. Kegiatan yang bernuansa adat dan keagamaan menjadi wajah dari pulau ini. Di satu sisi, ini merupakan kekuatan daya  tarik wisata yang membuatnya terkenal hingga ke mancanegara. Di sisi lain, kegiatan tersebut menggunakan sesajen dan sarana lainnya yang kurang mendapat pengelolaan sehingga sampah yang ditimbulkan dapat menjadi masalah lingkungan. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Provinsi Bali menghasilkan 1,02 juta ton timbulan sampah sepanjang tahun 2022. Sampah ini berasal dari aktivitas rumah tangga, wisata, dan masyarakat termasuk ritual keagamaan. Ini menjadikan Bali sebagai provinsi penghasil sampah terbesar ke-8 di Indonesia  (dalam Annur, 18 Oktober 2023). Data dari Bali Partnership menunjukkan bahwa timbulan sampah di Pulau Bali mencapai 4.281 ton per hari. Sebesar 60% dari total sampah tersebut merupakan sampah organik, 20% sampah plastik, dan sisanya terdiri dari kertas, logam, gelas dan sampah sisa persembahyangan (Wijaya & Putra, 2020). 

Sampah yang berasal dari kegiatan adat atau sampah sisa sesajen persembahyangan (yang biasa disebut dengan istilah lungsuran),merupakan sampah organik yang memiliki potensi menimbulkan bencana. Sampah lungsuran ini dapat berupa janur, buah-buahan, jajanan, tumpeng dan lain-lain. Selama ini pengelolaan sampah berfokus pada pengelolaan sampah plastik. Padahal, sampah organik juga merupakan faktor penyumbang rusaknya ekosistem bumi.

Tumpukan lungsuran dapat mengundang lalat yang dapat menyebarkan penyakit seperti diare dan sejenisnya. Selain itu, dampak negatifnya adalah polusi bau yang dapat mengganggu aktivitas. Apabila sampah lungsuran ini menumpuk di TPA dapat mengalami perubahan melalui dekomposisi anaerobik, sehingga menimbulkan bau busuk dan pelepasan gas metana (CH4) ke atmosfer (Puger, 2018). Gas CH4 pada lapisan stratosfer berperan sebagai gas rumah kaca dan berefek pada munculnya pemanasan global (Harti, dkk. 2022). Pemanasan global dan krisis iklim adalah sebuah isu yang sedang menjadi fokus perhatian dunia saat ini. Dengan membiarkan lungsuran terbuang sia-sia ke tempat sampah berarti ikut menyumbangkan bencana untuk dunia.   

Melihat urgensi permasalahan yang dapat terjadi apabila sampah lungsuran ini dibiarkan, maka lungsuran mestinya tidak dibuang begitu saja ke lingkungan. Lungsuran dapat diolah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat. Menurut Wijaya & Putra (2020) ada beberapa potensi yang terkandung dalam sampah lungsuran yang berupa bunga  diantaranya dapat diolah menjadi dupa aroma terapi, vermikomposting, dan biofuel. Menurut penelitian Kenedey dkk. (2023) sampah lungsuran ini dapat diolah menjadi RDF (refused derived fuel).

Baca juga : Soal Jatah Menteri, Golkar Tak Mau Buru-buru

Menurut artikel Innovilage (2022) sampah di Pura Aditya Jaya, Jakarta Timur berhasil diolah menjadi bio-briket sebagai upaya mendukung energi terbarukan. Yang paling penting, pengolahan termudah dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat dalam bentuk pembuatan eco-enzym. Eco-enzyme merupakan hasil olahan limbah organik yang difermentasi dengan menggunakan gula (Harti, dkk. 2022). 

Pada dasarnya, eco enzyme mempercepat reaksi bio-kimia di alam untuk menghasilkan enzim yang berguna menggunakan sampah organik. Enzim dari “sampah” ini adalah salah satu cara manajemen sampah yang memanfaatkan sisa-sisa sampah organik seperti lungsuran yang  tidak dipakai lagi untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dalam modul Eco-enzym Nusantara Revisi 2 (2 Mei 2002), dinyatakan Eco-enzym dapat digunakan sebagai pestisidia alami dan ampasnya dapat digunakan sebagai pupuk.

Sejatinya bukan hal yang sulit merubah sampah lungsuran menjadi produk pestisida dan pupuk tersebut. Kita hanya perlu mencacah lungsuran ke dalam bentuk kecil-kecil kemudian ditampung di dalam sebuah wadah misalnya botol atau tong plastik. Ke dalam tong tersebut dituangkan larutan molase (gula merah) dan air. Adapun perbandingan antara bahan lungsuran, air, dan molase yaitu 3 : 10 : 1 (diadaptasi dari Modul Eco Enzym Nusantara, 2002). Selanjutnya tong ditutup rapat dan dipanen setelah 90 hari. Panen dilakukan dengan menyaring eco-enzym agar ampas terpisah dengan cairannya. Ampasnya kemudian dapat diolah menjadi pupuk serupa kompos dan cairannya dapat langsung digunakan sebagai pestisida.  

Berdasarkan pengalaman penulis membuat Eco-enzym di sekolah, perawatannya cukup mudah. Campuran dalam wadah ditutup rapat, disimpan dilokasi yang teduh dan hindarkan dari Wi-fi, tempat pembakaran sampah, dan bahan-bahan kimia. Produk yang dihasilkan berupa cairan pestisida maupun pupuk selanjutnya diberi nama Eco-Bali. Penamaan ini berdasarkan bahan yang digunakan berasal dari lungsuran yang mana merupakan sampah khas dari aktivitas masyarakat Bali. Dari 27 kemasan (botol) Eco-Bali berupa pestisida yang telah kami hasilkan, terbukti sebanyak 13 (48%) petani menyatakan respon positif. Artinya, Eco-Bali terbukti mampu menunjukkan cukup manfaat sebagai pestisida. Dokumentasi pembuatan produk di sekolah penulis dapat disimak pada tautan berikut ini https://bit.ly/DokumentasiEcoBali.

Adsense

Melihat manfaat yang dapat dihasilkan dan kemudahan dalam membuat Eco-Bali, maka produksi Eco-Bali layak disosialisasikan di masyarakat. Diperlukan partisipasi para pemuda di Bali untuk saling bergandengan mensosialisasikan gagasan ini ke dalam setiap keluarga. Apabila Eco-Bali disosialisasikan di masyarakat, maka setiap rumah tangga di Bali ataupun pengelola Pura dapat membuat Eco-Bali secara mandiri. Selanjutnya, produk Eco-Bali dapat dijual murah kepada para petani sehingga sekiranya mampu membantu menekan biaya dan mengurangi polusi akibat penggunaan pestisida maupun pupuk kimia dalam pertanian. Hal ini sangatlah penting sebab pengggunaan pupuk kimia dan pestisida dalam pertanian saat ini sudah sangat menghawatirkan. Emisi dari pupuk kimia dan pestisida ini merupakan penyumbang terbesar dalam pemanasan global dari sektor pertanian (Harti, dkk. 2022). Menggeser produk kimia dengan Eco-Bali secara perlahan-lahan akan menjadi upaya untuk menyelamatkan bumi. 

Baca juga : Tafsir-tafsir Menteri MundurĀ 

Bagi masyarakat Bali sendiri, kehadiran Eco-Bali dapat menjadi sumber ekonomi terbarukan dimana sampah lungsuran yang selama ini dipandang sebelah mata kini menjadi salah satu sumber penghasilan. Produk Eco-Bali dapat menjadi aset perekonomian yang berharga kedepannya mengingat aktivitas budaya di Bali yang tak lekang oleh zaman. Artinya, produksi lungsuran akan senantiasa berdampingan dengan kegiatan adat budaya di Bali. Alangkah bagusnya apabila pengelolaan sampah sisa kegiatan adat juga dibudayakan. Harapannya, Eco-Bali dapat menjadi pendukung pertanian yang sehat, penerapan budaya positif sebagai pelengkap kehidupan bermsayarakat, dan sekaligus sebagai sumber perekonomian yang berkelanjutan. 

DAFTAR RUJUKAN

Eco-E Nusantara (2 Mei 2002). Modul Eco-enzym Nusantara Revisi 2. Dikutip dari https://iluni1381.org/images/pdf/Modul_EEN_2021.pdf 

Harti, Dwi. dkk. 2022. Proyek IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial). Jakarta : Erlangga.

Baca juga : Eca Aura, Pepet Anak Ganjar

Kenedey, F. V., Yudiaskara, D.N.A., dan Maharani, N. V. (2023). Penelitian Pengelolaan Sampah Upacara di Pura Menjadi RDF. Journal Universitas Mahasaraswati Denpasar. 362 – 369

Puger, I G. N. (2018). Agro Bali Sampah Organik, Kompos,Pemanasan Global, dan Penanaman Aglaonema di Pekarangan. Agricultural Journal 1 (2), 127 – 136. DOI : 10.37637/ab.v1i2.314

Wijaya, I M.W., dan Putra, I K. A. (2020). Potensi Daur Ulang Sampah Upacara Adat Di Pulau Bali. Jurnal Ecocentrim 1 (1), 1-8.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense