Perkuat Pencegahan Fraud
Sebelumnya, dalam acara Executive Policy Forum Kolaboratif Penanganan Fraud dan Scam Digital, yang diselenggarakan Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI), pada Kamis (16/4/2026), Ketua Umum ADIGSI Firlie Ganinduto mengakui, fraud digital menjadi salah satu ancaman bagi ketahanan siber Indonesia di tengah perkembangan digital yang masif.
“Perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini memudahkan manusia. Namun di sisi lain, teknologi ini dimanfaatkan pihak yang tak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan,” tutur Firlie.
Oleh karena itu, sambung Firlie, kolaborasi antara regulator dan sektor swasta menjadi kunci dalam memperkuat keamanan siber, sekaligus meningkatkan edukasi pengguna.
Baca juga : Lebanon Bernapas Sejenak, Israel Siaga Di Perbatasan
Di kesempatan yang sama, Deputi Bidang Keamanan Siber & Sandi Perekonomian Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Slamet Aji Pamungkas mengakui, potensi-potensi serangan siber di Indonesia sangat besar.
“Selama periode Januari sampai 15 November 2025, ada hampir 5,2 miliar anomali traffc, dengan 93,78 persen di antaranya berupa malware yang berpotensi menjadi ransomware,” jelasnya.
Untuk itu, pihaknya menggandeng para penyelenggara negara, pelaku usaha, akademisi dan komunitas untuk mewujudkan keamanan dan pertahanan siber, melindungi ekosistem perekonomian digital sebagai tulang punggung ekonomi nasional, serta meningkatkan kekuatan dan kapabilitas keamanan siber nasional.
Pendapat senada diungkapkan Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Yasmine Meylia Sembiring. Dia bilang, pihaknya juga menerima laporan melalui portal pengaduan AFPI, terkait platform ilegal, yang selanjutnya dikoordinasikan dengan Satgas PASTI untuk ditindaklanjuti.
Baca juga : Jangan Ada Toleransi Terhadap Premanisme
“Sebagai asosiasi Pindar (pinjaman daring/dalam jaringan), kami menempatkan pelindungan konsumen sebagai prioritas utama dan mendorong pergeseran dari penanganan kasus ke pencegahan yang lebih proaktif dan terintegrasi,” tegasnya.
Ke depan, pihaknya akan terus berperan aktif menjaga ekosistem digital yang sehat dan terpercaya.
Menanggapi ini, Chief of Public Affairs PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami) Karissa Sjawaldy menyadari, fraud dan scam digital merupakan isu industri dan tanggung jawab bersama.
Untuk itu, AdaKami sebagai salah satu perusahaan pindar berkomitmen memperkuat pelindungan konsumen melalui pengembangan sistem keamanan berbasis teknologi dan edukasi berkelanjutan. Hal ini agar pengguna terlindungi dari berbagai modus, sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap layanan digital.
Baca juga : Davina Karamoy, Gandeng Tangan Ardhito Pramono
“Kami juga menyadari, upaya ini tidak dapat dilakukan sendiri. Jadi, sinergi dengan regulator, asosiasi dan mitra strategis terus dilakukan untuk memperkuat ekosistem digital yang lebih aman,” katanya. [IMA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.