RM.id Rakyat Merdeka - Kepercayaan investor terhadap Indonesia semakin tinggi seiring dengan terus menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah. Pelaku pasar menilai Pemerintah berhasil menjaga stabilitas ekonomi.
Pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026), IHSG menguat 247,31 poin atau sekitar 4,12 persen ke level 6.254,97. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di zona hijau dengan kisaran 6.118 hingga 6.345. Rupiah juga ditutup menguat 0,38 persen menjadi Rp 17.713 per dolar AS.
"Penguatan ini relatif cepat dalam beberapa hari terakhir dan mencerminkan persepsi investor yang semakin positif terhadap Indonesia," kata Chief Executive Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Perkasa Roeslani, saat konferensi pers di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Menurut dia, tren positif tersebut tidak terlepas dari berbagai langkah Pemerintah dalam memperbaiki sentimen pasar, termasuk melalui kebijakan ekonomi dan komunikasi yang lebih intensif kepada investor global.
Danantara, kata Rosan, telah melakukan rangkaian safari ekonomi ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Singapura, dan Hong Kong. Dalam kegiatan tersebut, Danantara bertemu dengan 122 investor yang memberikan respons positif terhadap pemaparan mengenai prospek ekonomi Indonesia dan arah kebijakan investasi nasional.
Menurut Rosan, para investor melihat apa yang dilakukan Danantara dan berbagai kebijakannya mampu membalikkan momentum. “Yang sebelumnya mungkin masih ragu terhadap ekonomi Indonesia dan kebijakannya, kini melihat Indonesia merespons berbagai tantangan secara baik dan tepat," ujarnya.
Baca juga : Dihadiri 1 Menteri, 1 Kepala Badan, 1 Wamen, Diskusi Di UGM Ricuh
Rosan menilai, tekanan yang sempat terjadi di pasar keuangan Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi dibandingkan kondisi fundamental ekonomi. Seiring membaiknya persepsi investor, pergerakan pasar pun kembali menunjukkan penguatan.
Meski demikian, ia mengingatkan, fluktuasi jangka pendek merupakan hal yang wajar dalam pasar modal. "Persepsinya sekarang sudah berada dalam tren positif dan kami berharap kepercayaan ini terus meningkat," katanya.
Ia menambahkan, investor global umumnya memandang Indonesia dari perspektif jangka panjang dengan mempertimbangkan faktor fundamental ekonomi, arah kebijakan pemerintah, serta kualitas tata kelola.
Menurutnya, transparansi, akuntabilitas, dan keterbukaan informasi menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan investor. "Yang paling penting adalah kita selalu terbuka kepada publik karena itu yang memengaruhi persepsi investor terhadap kita," ujarnya.
Head of Research sekaligus Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto menilai, penguatan IHSG saat ini memang masih dipengaruhi faktor technical rebound. Namun, menurut dia, kenaikan tersebut juga didukung oleh membaiknya sejumlah indikator fundamental.
Rully menyebut, sentimen positif mulai kembali ke pasar setelah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dinilai lebih tegas dan ketegangan geopolitik global mulai mereda. Kondisi tersebut turut membantu menjaga stabilitas rupiah dan pasar obligasi domestik.
Baca juga : Soal Kenaikan Harga BBM, Seskab: Pertamax RI Termurah Di Dunia
"Perbaikan kondisi pasar keuangan ini menjadi angin segar setelah sebelumnya pasar menghadapi tekanan akibat pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), dan tingginya ketidakpastian global," katanya dalam riset yang dirilis Selasa (16/6/2026).
Menurut dia, arah pergerakan IHSG ke depan akan sangat dipengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah dan perkembangan imbal hasil obligasi pemerintah. Jika rupiah mampu mempertahankan tren penguatan dan yield SBN tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya yang sempat berada di atas 7,3 persen, maka premi risiko Indonesia berpotensi terus menurun.
"Kondisi tersebut akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham," ujarnya.
Namun demikian, pelaku pasar masih akan mencermati berbagai sentimen global, termasuk arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia dan perkembangan ekonomi internasional.
Rully mengamini, tanda-tanda pemulihan yang mulai terlihat saat ini menjadi indikasi bahwa kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik perlahan kembali menguat.
"Jika didukung stabilitas pasar keuangan dan kembalinya aliran modal asing, peluang penguatan IHSG dalam jangka menengah semakin terbuka," tuturnya.
Baca juga : Program MBG Tidak Dihentikan Tapi Diperbaiki
Sementara, Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede mengingatkan, kenaikan suku bunga acuan bukan satu-satunya solusi untuk memperkuat rupiah. Menurut dia, efektivitas kebijakan tersebut bergantung pada sejumlah faktor pendukung, termasuk kemampuan menarik kembali aliran dana asing ke instrumen keuangan domestik seperti SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Selain itu, diperlukan koordinasi yang kuat antara BI dan Pemerintah untuk menjaga stabilitas likuiditas sektor keuangan agar penyaluran kredit dan aktivitas ekonomi tetap berjalan optimal. "Pemerintah juga perlu memperkuat kepercayaan pasar melalui disiplin fiskal, komunikasi kebijakan yang jelas, serta konsistensi dalam menjaga iklim investasi," kata Josua.
Ia menambahkan, ketiga faktor tersebut menjadi syarat penting untuk menjaga stabilitas rupiah dan memperkuat keyakinan investor terhadap prospek ekonomi nasional. "Jika tiga hal ini berjalan, rupiah berpeluang lebih stabil. Jika tidak, kenaikan suku bunga hanya akan membeli waktu dengan biaya yang semakin mahal," ujar Josua.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.