RM.id Rakyat Merdeka - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) ikut menyoroti kenaikan harga daging sapi yang tak wajar di pasaran. Lembaga pengawas itu siap melakukan investigasi jika ada indikasi pelanggaran persaingan usaha.
Wakil Ketua KPPU Guntur Saragih mengaku, pihaknya tengah mendalami masalah tersebut.
“Masih terus kami lihat, apakah mahalnya daging ini karena ada intervensi yang mengarah ke pelanggaran persaingan usaha atau tidak,” ujarnya dalam diskusi virtual, kemarin.
Menurut Guntur, ada beberapa faktor yang menjadi pendorong harga daging sapi meroket. Selain, kemungkinan dugaan pelanggaran persaingan usaha, situasi lain seperti mahalnya suplai lantaran keterbatasan stok, turut menjadi faktor penentu.
Baca juga : Diungkap Kementan, Stok Daging Sapi Dan Kerbau Masih Aman
Namun, sampai saat ini KPPU belum mulai masuk ke tahap penelitian. KPPU juga belum dapat menyimpulkan adanya pelanggaran pada kasus naiknya harga daging.
“Kami masih terus memantau karena kenaikan harga terjadi khusus di Jabodetabek,” katanya.
Guntur memastikan, masalah harga daging sapi kali ini berbeda dengan perkara yang pernah diusut KPPU pada 2016.
Pada 2016, KPPU menemukan adanya kartel daging oleh sejumlah importir. Perkara tersebut telah diputus oleh Majelis Hakim KPPU.
Baca juga : BUMD Siap Gelontorkan 780 Ton Daging Sapi Beku
Head of Research Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, Pemerintah perlu membenahi tata niaga daging sapi nasional.
Menurut dia, tingginya harga daging sapi perlu diatasi dengan melihat ke persoalan di hulu. Salah satunya karena rantai distribusi yang panjang.
Panjangnya rantai distribusi menimbulkan biaya tambahan yang tidak sedikit. Akhirnya, berpengaruh kepada harga jual.
Felippa menuturkan, rantai panjang distribusi dimulai dari Pemerintah yang memilih mengimpor sapi. Kemudian, digemukkan lagi dan dipotong di Indonesia.
Baca juga : Tinjau Pengungsi Banjir Bandang Bogor, Muhadjir Kasih Bantuan Masker Dan Pangan
Setelah itu, daging sapi yang dihasilkan dapat dijual langsung ke pedagang grosir berskala besar di pasar atau melalui tengkulak yang membantu RPH (Rumah Pemotongan Hewan) untuk mendapatkan pembeli. Barulah menjual daging sapi ke pedagang grosir berskala kecil.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.