BREAKING NEWS
 

Eksklusif Dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi

Meski Rumit, Negara G20 Sepakat Bangkit Bersama

Reporter : MELLANI EKA MAHAYANA
Editor : RATNA SUSILOWATI
Kamis, 15 September 2022 07:01 WIB
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat wawancara bersama Direktur Utama Rakyat Merdeka dan CEO Rakyat Merdeka Group Kiki Iswara Darmayana di Gedung Pancasila Kementrian Luar Negeri, Senin (12/9). (Foto: Patrarizki Syahputra/RM)

 Sebelumnya 
Menurutnya, titik awal untuk penyelesaian krisis Myanmar adalah, konsolidasi demokrasi dan dialog nasional. 

“Selama ini ASEAN membuktikan diri menjadi lokomotif stabilitas dan perdamaian maupun kemakmuran kawasan. Indonesia ingin, 50 tahun ke depan ASEAN ini tetap seperti itu. Kokoh, tidak terombang-ambing, merapatkan sentralitas, sehingga bisa banyak berkontribusi,” katanya.

Diplomasi Vaksin

Baca juga : Menteri Siti Berharap Negara G20 Capai Kesepakatan Aksi Penyelamatan Bumi

Kilas balik penanganan pandemi Covid-19, Menlu menceritakan proses diplomasi vaksin yang dilakukan Indonesia. Dia mengisahkan, situasi saat itu tidak mudah. Indonesia adalah negara besar dengan penduduk lebih dari 270 juta. Saat pencarian vaksin, kondisinya serba tidak pasti. Produksi masih sangat terbatas, sementara permintaannya tinggi sekali.

“Kita berpacu dengan waktu. Dengan perhitungan semua aspek. Alhamdulillah,

Indonesia mengamankan total lebih dari 510 juta vaksin. Dan 25 persennya, gratis, sehingga bisa menghemat uang negara,” papar Retno.

Baca juga : Sumpah, Negara Baik Banget

Saat pandemi, prioritas kerja dan cara pandang diplomasi langsung berubah. Bersama Kementerian BUMN dan Kementerian Kesehatan, baju membahu mencari vaksin sebanyak mungkin. Salah satu kunci yang melancarkan prosesnya adalah pertemanan, networking, hubungan baik. “Itu seperti tabungan, aset, sangat bermanfaat membantu misi kita,” katanya.

Jejaring ini juga sangat membantu saat melakukan evakuasi dan penyelamatan WNI yang terkena masalah di luar negeri. “Saya tidak tidak bisa bayangkan. Andai tidak memiliki tabungan networking yang tebal,” ujarnya.

Misalnya, saat membantu WNI di Ukraina. Menlu mengisahkan, evakuasi telah dilakukan secara bertahap, karena situasi tidak menentu dan cepat berubah. 

Baca juga : Urgent! Menkeu Sri Mulyani Desak Negara G20 Kolaborasi Atasi Krisis Pangan

“Katakanlah kami mau mengevakuasi, tiba-tiba ada ancaman. Dan  situasi keamanan pun berubah. Maka kita putuskan tunda dulu menunggu situasi lebih baik. Namun, Alhamdulillah kita dapat mengevakuasi mereka dengan selamat,” kisahnya.

Demikian juga dengan WNI korban penipuan dan perdagangan orang di Kamboja. Kementerian Luar Negeri menyelamatkan lebih dari 240 WNI.

“Perlindungan WNI adalah salah satu prioritas politik luar negeri Indonesia,” pungkas Menlu. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense