BREAKING NEWS
 

Ini Kata Jubir Kemenkeu Yustinus Prastowo, Soal Pengalaman Tak Enak Soimah Dengan Petugas Pajak

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Sabtu, 8 April 2023 19:42 WIB
Artis Soimah Pancawati saat curhat pengalaman tak menyenangkan, saat berurusan dengan petugas pajak. (Foto: SS YouTube Blakasuta)

 Sebelumnya 
3. Soimah cerita pengalamannya saat bangun pendopo. Dia bilang, pendopo belum jadi, orang pajak sudah keliling.

"Dari jam 10 pagi sampai 5 sore, orang pajak ngukur pendopo. Jendela, tiang diukur. Direkam, difoto. Nah foto2 mereka juga saya simpan. Masih ada wajah-wajah yang ngukurin," urai Soimah.

"Waktu itu saya lagi di Jakarta, dapat laporan. Iki wong pajak opo tukang? Ngukur-ngukur. Akhirnya pendopo saya di-appraisal hampir Rp 50 miliar. Padahal, saya aja belum tahu pembangunannya bakal habis berapa. Wong belum rampung," imbuhnya.

Tanggapan Prastowo:

Petugas masuk rumah melakukan pengukuran pendopo dan mengecek detail bangunan adalah kegiatan normal, yang didasarkan pada surat tugas yang jelas.

"Memang, membangun rumah tanpa kontraktor dengan luas di atas 200 m2 terutang PPN 2 persen dari total pengeluaran," jelas Prastowo.

Dia bilang, UU mengatur ini justru untuk memenuhi rasa keadilan, dengan konstruksi yang terutang PPN.

Petugas pajak bahkan melibatkan penilai profesional, agar tak semena-mena. Maka, kerjanya pun detail dan lama, tak asal-asalan.

Adsense

Baca juga : Guspardi Khawatir Putusan Bawaslu Soal Prima Ganggu Tahapan Pemilu

"Hasilnya, nilai bangunan ditaksir Rp 4,7 M, bukan Rp 50 M seperti diklaim Soimah. Dalam laporannya sendiri, Soimah menyatakan pendopo itu nilainya Rp 5 M. Penting dicatat, kesimpulan dan rekomendasi petugas pajak tersebut bahkan belum dilakukan tindak lanjut. Artinya, PPN terutang 2 persen dari Rp 4,7 M itu sama sekali belum ditagihkan," terang Prastowo.

3. Soimah cerita, Maret lalu, dia diingatkan untuk segera melaporkan SPT Pajak, dengan bahasa yang kurang sopan.

"Bahasanya nggak manusiawi, kayak ngoyak-ngoyak maling. Ya sebentarlah, saya kan lagi di Yogya. Nota-notanya sebagian di Jakarta. Sabar. Bandaku (harta saya, Red) jelas. Nggak ada yang ditutupi," ucap Soimah.

Tanggapan Prastowo:

"Saya pun sudah mendengarkan rekaman percakapan Soimah dan juga chat WA dengan petugas pajak. Duh…saya malah kagum dengan kesabaran dan kesantunan pegawai KPP Bantul ini," tutur Prastowo.

Meski punya kewenangan, kata Prastowo, petugas pajak tak sembarangan menggunakannya. Mereka hanya mengingatkan, bahkan menawarkan bantuan, jika Soimah kesulitan.

"Ternyata, itu dianggap memperlakukan seperti maling, bajingan, atau koruptor. Hingga detik ini, pun meski Soimah terlambat menyampaikan SPT, KPP tidak mengirimkan teguran resmi, melainkan persuasi," paparnya.

4. Soimah menyampaikan uneg-uneg terkait pelaporan pajak, yang membuatnya repot mengumpulkan nota. Karena apa-apa pakai nota.

Baca juga : Dubes Inggris Owen Jenkins Perkuat Pemberdayaan Anak Dan Perempuan Indonesia

Tanggapan Prastowo:

"Itu ada Undang-Undang dan aturannya. Tapi, saya menjadi tak bijak. Saya hanya ingin bilang, Soimah mesti bersyukur penghasilannya cukup tinggi, sehingga menurut UU Pajak, sudah harus menyelenggarakan pembukuan untuk menghitung pajak," cetus Prastowo.

Menurutnya, yang tahu semua ini ya Soimah. Berapa uang yang didapat, berapa biaya dikeluarkan. Rumit dan ribet?

"Iya juga sih. Tapi itulah konsekuensi aturan dan administrasi agar adil," kata Prastowo, yang juga mantan pengamat perpajakan.

Karena UU tak bisa membedakan orang per orang, maka dibuat standar yang dijalankan jutaan orang wajib pajak.

Mungkin ada benarnya kata seorang pakar, "pajak itu hal tak mengenakkan yang harus ada supaya negara tetap berdiri tegak". Begitu kata Prastowo.

Untuk itulah, disediakan standar akuntansi, aplikasi pembukuan, jasa akuntasi, jasa konsultan dan lainnya.

"Memang tak mudah, tapi bisa dipelajari. Kantor Pajak pun menyediakan bimbingan dan konsultasi, selain jasa praktisi yang profesional dan terjangkau," ujar Prastowo, mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang pernah didaulat menjadi pegawai berprestasi di masa Dirjen Pajak M Tjiptardjo.

Baca juga : Ditanya Netizen Soal Harta Rp 19 M, Stafsus Menkeu Yustinus Prastowo Bilang Begini

Kembali ke Soimah. Prastowo sebetulnya sudah berniat mencari dan bicara dengan Soimah sejak sebulan lalu, ketika Tik Toknya menyebar.

"Ucapannya sangat nyelekit, menusuk jantung kesabaran. Lagi-lagi saya tak tersinggung, tapi justru ingin berdialog hati ke hati. Sayang sulit sekali menjangkaunya," ungkap pria kelahiran Gunung Kidul 4 April 1970.

Dia pun mencoba bertanya ke Romo Sindhunata, budayawan yang tinggal di Jogja dan mentor Soimah. Kebetulan, Prastowo bersahabat dan cukup dekat dengan Romo Sindhu. Hasilnya nihil, karena Romo Sindhu ternyata sudah lama tak berinteraksi dengan Soimah.

"Hingga saya bertanya pada kolega, termasuk salah satu petinggi di Emtek, yang membawahi Indosiar. Akhirnya ada podcast Blakasuta ini. Sebuah dialog yang amat kaya, otentik, renyah," ujarnya.

Prastowo mengaku tak ingin mendebat Soimah. Karena menurutnya, luka batin itu hanya bisa dibasuh oleh Soimah sendiri. Ketika sanggup berdamai dengan realitas yang kadang tak hitam putih. Layaknya dunia seni.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense