Sebelumnya
Di mata Prastowo, Soimah adalah seniman yang sudah matang bertumbuh kembang dalam falsafah Jawa.
Barangkali ini sekelumit pengejawantahan seloka ‘jer basuki mawa bea’, atau ‘ana rega ana rupa’.
"Pemerintah tentu berterima kasih kepada para pembayar pajak, termasuk Soimah. Berkat kontribusi Anda, kita bisa membangun dan melakukan banyak hal baik. Saya pun ingin berempati pada petugas pajak, khususnya di KPP Bantul," ujar Prastowo.
Dia bilang, terlepas soal target, Bantul bukanlah Jakarta Pusat yang penuh bangunan mentereng dan orang super tajir.
Baca juga : Guspardi Khawatir Putusan Bawaslu Soal Prima Ganggu Tahapan Pemilu
"Teman-teman di sana, berusaha menjalankan tugas, yang setelah saya telisik, sesuai aturan dan kepatutan. Bisa saja ada oknum petugas yang bertindak tak pantas, meski dari rangkaian kesaksian, ingatan, dan catatan – tak ada alasan untuk harus melakukan tindakan itu," tutur Prastowo.
"Pak Slamet Sutantyo, Plt Kakanwil Pajak Yogyakarta, tak segan meminta maaf jika ada kesalahan seperti itu," imbuhnya.
Prastowo mengaku sudah menghubungi seniman Butet Kertaredjasa, yang menyediakan diri menjadi penengah yang baik.
Kata dia, Butet sudah mengajak pihak KPP dan Soimah duduk bareng, ngobrol hati ke hati. Tak perlu masing-masing merasa yang (paling) benar. Tapi ngobrol enak, sambil gojekan, mengenang interaksi masa lalu, sambil mengungkapkan harapan buat ke depan.
Baca juga : Dubes Inggris Owen Jenkins Perkuat Pemberdayaan Anak Dan Perempuan Indonesia
Sambung rasa yang lebih manusiawi, seperti kata Soimah.
"Menurut teman di KPP, sejak 2015 itu, mereka bahkan belum pernah berhasil bertatap muka dengan Soimah. Duh, tentu akan jadi momen yang mengharukan, jika seniman serba bisa kebanggan kita ini sudi ngobrol hati ke hati. Pasti para pegawai berebut selfie. Betapa dahsyat dampaknya. Wawuh! Soimah Gugat yang berujung pada solusi menang-menang," papar Prastowo.
Kantor Pajak perlu terus andhap asor, rendah hati dalam menjalan tugas. Sebaliknya, wajib pajak pun perlu memahami, saat ini pemerintah sudah banyak melakukan perubahan. Sehingga, tak beralasan untuk menghindari.
Kepanjangan pajak itu: pasti aman jika ada komunikasi! Witing tresna jalaran saka kulina (awal mula cinta adalah perjumpaan). Jika perjumpaan itu dapat segera dilakukan, tentu amat baik.
Baca juga : Ditanya Netizen Soal Harta Rp 19 M, Stafsus Menkeu Yustinus Prastowo Bilang Begini
"Pada akhirnya ini soal rasa. Syukur-syukur di bulan penuh berkah ini. Ditutup buka bersama di rumah Mas Butet. Gayeng regeng. Sluman slumun slamet. Bahkan kalau berkesempatan, saya pun sangat ingin bergabung. Lalu dipungkasi tawa renyah, dan Mas Butet menutupnya dengan slogan khasnya: uasuwoookkk!!!" pungkas Prastowo. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.