RM.id Rakyat Merdeka - Tidak hanya meningkatkan gizi penerima manfaat, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga ikut menggerakkan ekonomi rakyat. Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat ratusan triliun dana MBG mengalir ke daerah.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengatakan, dari total anggaran BGN sebesar Rp 268 triliun, sekitar Rp 248 triliun-Rp 249 triliun dialirkan langsung ke daerah melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Dana itu kita alirkan langsung ke daerah melalui virtual account di setiap SPPG dan dibelanjakan di daerah,” ujar Dadan dalam Forum U25 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (28/4/2026).
Menurut dia, skema tersebut menjadikan SPPG sebagai pusat aktivitas ekonomi baru di daerah. Setiap unit SPPG mengelola anggaran sekitar Rp 1 miliar per bulan yang sebagian besar digunakan untuk membeli bahan baku pangan dari masyarakat sekitar.
Ia merinci, sekitar 70 persen anggaran SPPG dialokasikan untuk pembelian bahan baku. 95 persen di antaranya berasal dari sektor pertanian, peternakan, dan perikanan lokal.
Baca juga : AS Buka Blokade Laut, Iran Buka Selat Hormuz
“Artinya, program makan bergizi ini identik dengan kemandirian pangan lokal, karena hampir seluruh kebutuhan dipasok dari dalam daerah,” katanya.
Dadan mencontohkan, dampak program tersebut di Jawa Barat, yang telah memiliki sekitar 6.200 unit SPPG dengan perputaran dana mencapai Rp 6 triliun per bulan.
“Uang beredar di daerah hanya dari program ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, aliran dana dalam skala besar tersebut mulai memberikan efek berantai terhadap perekonomian lokal. Antara lain meningkatnya permintaan komoditas pertanian, stabilisasi harga, serta meningkatnya aktivitas produksi petani dan pelaku usaha kecil.
Selain dampak ekonomi, BGN juga mencatat adanya perbaikan indikator sosial di sejumlah daerah, seperti penurunan angka kemiskinan dan pengangguran serta menyempitnya ketimpangan ekonomi.
Baca juga : Gandeng Saudi German Hospital, Layanan Kesehatan Haji Siap 24 Jam
“Kami mendapat laporan dari beberapa daerah, gini ratio mulai menyempit, angka kemiskinan turun, dan pengangguran juga menurun karena uang beredar di masyarakat,” kata Dadan.
Sementara itu, Deputi Bidang Pengadaan dan Penyaluran BGN, Suardi Samiran menyebut, rantai pasok MBG membuka peluang luas bagi masyarakat lokal. Menurut dia, bahan pangan seperti sayur, telur, dan lainnya berasal dari masyarakat.
“Artinya, program ini juga menggerakkan ekonomi lokal karena melibatkan banyak pihak di daerah,” ujar Suardi.
Dampak program juga diakui pemerintah daerah. Dalam forum ASEAN ID-Nourish di Semarang, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyebut, MBG sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan kualitas SDM.
“MBG bukan sekadar program makan, ini investasi untuk masa depan. Dari sini kualitas sumber daya manusia kita dibentuk,” katanya.
Baca juga : Zulfikar Arse Sadikin: Lembaga Ini Tidak Bisa Menjawab Persoalan Partai
Presiden Prabowo Subianto menegaskan, program MBG menjadi salah satu capaian yang patut dibanggakan karena mulai dipelajari oleh berbagai negara. “Banyak negara sekarang belajar MBG ke kita,” kata Prabowo saat groundbreaking 13 proyek hilirisasi nasional tahap II di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).
Ia menambahkan, program tersebut mampu menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat dengan distribusi makanan lima kali dalam sepekan, termasuk bagi kelompok rentan seperti ibu hamil dan lanjut usia.
Menurut Presiden, cakupan dan skala program tersebut menunjukkan kapasitas Indonesia dalam menjalankan intervensi sosial dan ekonomi secara besar dan terintegrasi. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.