BREAKING NEWS
 

Wamenperin: Produk Specialty RI Harus Makin Dikenal Di Pasar Global

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Senin, 10 Agustus 2026 21:15 WIB
Faisol Riza. (Foto: DIT/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza memacu produk specialty Indonesia agar semakin dikenal dan memiliki daya saing kuat di pasar global. Penguatan pasar tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah produk berbasis sumber daya alam dan memperkuat industri dalam negeri.

Faisol mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya hayati yang dapat dikembangkan menjadi produk artisan berkualitas premium. Komoditas tersebut antara lain kakao, kopi, teh, hortikultura, susu, hasil tembakau, dan produk fermentasi berbasis lokal.

"Melalui kegiatan ini, kita memberikan apresiasi kepada produk-produk artisan Indonesia yang memiliki kualitas unggul, nilai tambah tinggi, dan identitas yang kuat sebagai representasi kekayaan alam Indonesia," kata Faisol saat membuka Pameran dan Business Matching Specialty Indonesia 2026 di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Menurut Faisol, pasar makanan dan minuman artisan global menunjukkan prospek yang positif seiring perubahan preferensi konsumen. Pada 2025, nilai pasar tersebut diperkirakan mencapai 332 miliar dolar AS dan diproyeksikan meningkat menjadi 627,3 miliar dolar AS pada 2032 dengan pertumbuhan tahunan gabungan 9,5 persen.

Baca juga : Wamenperin: Pasar Makanan Artisan Global Tembus 627 M Pada 2032

Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya permintaan terhadap produk premium yang memiliki cita rasa autentik, identitas asal yang kuat, serta diproduksi secara berkelanjutan. Kondisi itu dinilai menjadi peluang bagi produk specialty Indonesia untuk memperkuat pasar domestik sekaligus memperluas penetrasi ke pasar internasional.

Faisol mengatakan Specialty Indonesia 2026 tidak sekadar menjadi ajang pameran produk, tetapi juga sarana mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra bisnis. Karena itu, kegiatan business matching diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang kerja sama dengan pelaku bisnis pengguna di pasar global.

"Saya berharap ajang ini dapat membuka lebih banyak kolaborasi antara pelaku usaha specialty Indonesia dengan pelaku bisnis pengguna seperti hotel, restoran, dan ritel internasional, sehingga brand image produk-produk kita semakin kuat dan dikenal di pasar global," ujarnya.

Adsense

Ia menilai penguatan brand image menjadi penting agar produk Indonesia tidak hanya dikenal sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga sebagai penghasil produk olahan berkualitas tinggi. Strategi tersebut sekaligus dapat mendorong peningkatan nilai tambah dan memperkuat posisi industri nasional dalam rantai pasok global.

Baca juga : Gandeng UGM Dan Mars, Kemenperin Kerek Daya Saing Kakao RI

Indonesia memiliki posisi yang cukup kuat pada sejumlah komoditas yang dapat dikembangkan menjadi produk specialty. Untuk kakao, Indonesia tercatat sebagai produsen produk olahan kakao terbesar keempat dunia dan produsen biji kakao terbesar ketujuh dunia.

Sementara itu, Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat dunia. Ekspor kopi olahan Indonesia pada 2025 mencapai 692 juta dolar AS atau sekitar Rp1 1,42 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.500 per dolar AS, meningkat 4,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Faisol juga menyoroti peluang industri teh yang terus berkembang di pasar global. Pasar ekstrak teh global meningkat dari 3,6 juta dolar AS pada 2019 menjadi 5,6 juta dolar AS pada 2025, sedangkan pasar suplemen teh hijau mencapai 909,9 juta dolar AS pada 2025.

Selain itu, produk olahan hortikultura memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena didukung produksi buah dan sayuran nasional serta kinerja ekspor yang meningkat. Nilai ekspor produk hortikultura pada 2025 mencapai 544,8 juta dolar AS atau sekitar Rp8,99 triliun dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS.

Baca juga : Kemenperin Pacu Produk Specialty Lokal Tembus Pasar Premium

Menurut Faisol, produk fermentasi berbasis bahan baku lokal juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi subsektor industri baru. Pasar pangan fermentasi global pada 2025 diperkirakan mencapai 788,33 juta dolar AS dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,24 miliar dolar AS pada 2034.

Untuk memperkuat akses pasar, Kementerian Perindustrian menggelar Specialty Indonesia 2026 pada 10-13 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menampilkan produk olahan kakao, teh, kopi, hortikultura, susu, cerutu, serta produk fermentasi berbasis lokal.

Faisol juga mengajak masyarakat Indonesia untuk semakin mencintai, menggunakan, dan membeli produk industri dalam negeri. Menurut dia, dukungan pasar domestik akan menjadi fondasi bagi industri nasional untuk memperkuat daya saing sebelum memperluas penetrasi ke pasar global.

Ia berharap Specialty Indonesia 2026 dapat menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi, memperluas pasar, dan melahirkan inovasi produk specialty Indonesia. Dengan demikian, produk artisan dalam negeri diharapkan semakin diperhitungkan di pasar domestik maupun mancanegara.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense