Sebelumnya
Dengan dasar itu, BGS tidak heran jumlah tes Indonesia bisa memenuhi standar WHO. Tapi, itu tidak ada gunanya karena tidak menyasar pada suspek.
BGS mengakui, penanganan pandemi selama ini lebih pada penanganan di hilir, yaitu di rumah sakit. Padahal, penanganan harus sejak hulu. Kalau penanganan hanya memfokuskan di rumah sakit, ibaratnya seperti sibuk ngepel lantai setiap kali turun hujan. Seharusnya, selain ngepel adalah me nambal kebocoran.
“Kalau hanya ngurusin vaksin dan rumah sakit, itu mah udah di ujung, udah telat,” beber BGS.
Dia menambahkan, yang harus di lakukan saat ini adalah perubahan protokol kesehatan pasca pandemi. Dia mengungkit, peristiwa pesawat menabrak Twin Tower di Amerika Serikat. Setelah kejadian itu, protokol naik pesawat berubah.
Tak cuma masalah testing yang di ungkap BGS. Ia juga mengaku, kapok memakai data Kementerian Kesehatan (Kemenkes)-lembaga yang saat ini dia pimpin-karena tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Karena itu, dia akan menggunakan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai basis data untuk program vaksinasi Corona.
Baca juga : Langgar Prokes, KTP Warga Surabaya Diblokir
BGS mengaku, pernah diberi data jumlah Puskesmas dan Rumah Sakit (RS) dari Kemenkes. Berdasarkan data itu, disebutkan jumlah total Puskesmas dan RS cukup untuk melaksanakan vaksinasi Corona secara nasional.
Namun, setelah ditelusuri sarana kesehatan yang ada, tidak mencukupi. “Ah, saya kapok. Kami akan perbaiki strateginya,” tuntasnya.
Pernyataan BGS ini bikin heboh dunia nyata dan dunia maya. Anggota Komisi IX DPR, Saleh Daulay mengaku kaget mendengar pernyataan BGS. Jika yang disampaikan BGS benar, upaya pemerintah menangani pandemi selama ini, sia-sia. “Ini sama artinya kita salah dalam lakukan Prokes,” kata Saleh kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.
Epideimolog Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, dia dan koleganya sudah menyampaikan kekeliruan tersebut sejak awal pandemi. Namun, tak ditanggapi.
Dia berharap, setelah mengetahui letak kekeliruannya, BGS segera melakukan pembenahan. Soalnya, sampai sekarang tes Corona masih belum berubah. Sejak awal Januari 2021 sampai sekarang, positivity rate selalu di atas 20 persen.
Baca juga : Musim Covid, Brazil Cetak Rekor Angka Perceraian
“Artinya testing dan tracing kita semakin jauh dari yang disebut ideal, baik secara pelaksanaannya, sasaran maupun kuantitasnya, tidak memadai,” kata Dicky kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.
Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono juga kaget lantaran data Kemenkes tak akurat. “Selamat datang di hutan. Kemenkes bahkan tidak punya data nakes yang akurat,” kata Pandu, kemarin.
Soal penanganan pandemi, Pandu menyarankan, pemerintah mengikuti langkah Presiden Amerika Serikaf (AS), Joe Biden yang sudah punya Rencana Aksi Nasional dalam mengendalikan pandemi dengan melibatkan partisipasi masyarakat.
“Bila tidak ada rencana, bagaimana Indonesia bisa sukses menangani Pandemi yang terukur dan bisa diper tanggungjawabkan,” ujarnya.
Sejumlah selebtwit ikut mengomentari pengakuan BGS. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menilai, apa yang disampaikan BGS benar adanya.
Baca juga : Moeldoko Bela Airlangga
“Pilot-pilot Susi Air yang tinggal di base mereka sudah lebih dari ratarata 100 kali dites perorangnya. Tiap dua hari atau ganti daerah terbang,” kicaunya.
Sutradara Angga Sasongko megaku, setelah menonton video BGS, jadi meragukan kerja Menkes Terawan sebelumnya. “Dia dulu ngapain aja sampai bikin satu negara sengsara sama pandemi,” kicau @anggasasongko.
Tokoh Nahdlatul Ulama, Nadirsyah Hosen ikut gembira mengetahui ada pejabat yang sadar. “Perlahan kesadaran dan kewarasan itu muncul. Semangat Pak Menkes baru,” ujar @na_dirs. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.