Sebelumnya
Persatuan antara tentara Belanda, tukang, kuli, budak, dan para kelasi, bersama-sama menyerbu dan membakar rumah-rumah orang Tionghoa, juga merampok hartanya serta membunuh setiap orang Tionghoa yang ditemui, baik laki-laki, perempuan, tua-muda bahkan bayi sekali pun dibantai tanpa ampun.
Saat itu, banjir darah dimana-mana. Bahkan Kali Angke (kali berarti sungai, Angke berasal dari dialek Hokkian yang berarti merah) sampai berwarna merah akibat bertumpuknya mayat.
Baca juga : Sri Mul Optimis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Membaik
Peristiwa pembataian massal tersebut mengakibatkan 10.000 orang penduduk etnis Tionghoa di Batavia tewas dan sebagian penduduk Tionghoa lainnya melarikan diri ke Jawa Tengah, Tangerang dan Banten.
Penduduk etnis Tinghoa saat itu pun hanya tersisa 3.431 orang di Batavia dan ditempatkan khusus di luar benteng kota Batavia, agar pemerintah VOC dapat mengawasi dengan mudah. Tempat tersebut saat ini menjai pusat perdagangan, yakni Glodok.
Baca juga : Liga Spanyol: Bantai Sevilla, Real Madrid Kokoh Di Puncak
Betapa kejamnya pembantaian terhadap orang-orang Tionghoa saat itu, tentu saja jika melihat pada masa sekarang, akan menemukan pola yang sama, bahwa etnis Tionghoa selalu menjadi kambing hitam dalam setiap persoalan. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.