BREAKING NEWS
 

Tionghoa di Batavia: Cikal Diskriminasi dan Konflik Rasial di Indonesia

Reporter & Editor :
MUHAMMAD RUSMADI
Senin, 24 Oktober 2022 09:30 WIB
Etnis Tionghoa di Hindia Belanda. [Sumber: geheugen.delpher.nl]

 Sebelumnya 
Pada 1740 M, terjadi peristiwa memilukan, berupa pembantaian terhadap penduduk Tionghoa di Batavia yang disebabkan oleh buruknya sistem pemerintahan VOC. Kebijakan baru pemerintahan VOC berupa menempatkan penduduk Tionghoa di luar kawasan benteng Batavia, yakni Ommelanden. Kebijakan ini dilakukan karena lokasi pemukiman di luar tembok dijadikan sebagai wilayah penyangga keamanan, sehingga pemerintah VOC tidak perlu mengeluarkan biaya untuk penjagaan keamanan di sekitar Batavia.

Di sisi lain, migrasi masyarakat Tionghoa yang semakin lama semakin banyak berdatangan ke Batavia, dianggap dapat menimbulkan bahaya, karena dari segi kualitas, orang-orang Tionghoa mampu memegang dan menguasai perekonomian di Batavia. Sedangkan dari segi kuantitas mereka semakin banyak dan tak terbendung. Bahkan banyak pekerja illegal di Batavia.

Dari keadaan yang demikian ini, VOC memberlakukan surat izin tinggal, yang pemberlakuannya malah dijadikan ajang pemerasan oleh pejabat-pejabat VOC.

Baca juga : Sri Mul Optimis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Membaik

Alwi Shahab dalam bukunya “Batavia Kota Banjir” menyebutkan, penyebab peristiwa pembantaian 1740 M terhadap masyarakat Tionghoa di Batavia dan sekitarnya yang saat ini terabadikan sebagai “Geger Pecinan atau Tragedi Angke”, berawal dari bangkrutnya pabrik-pabrik gula di Batavia dan sekitarnya. Pabrik-pabrik gula bangkrut, karena harga gula di pasar internasional anjlok.

Gula dari Batavia kalah saing dengan pasokan gula dari Malabar (India). Dampak kebangkrutan pabrik gula, akhirnya banyak warga Tionghoa dipecat dan menjadi pengangguran bahkan gelandangan. Sehingga angka kriminalitas pun meningkat tajam.

Dari kejadian ini, Gubernur Batavia Adriaan Valckenier membatasi migrasi etnis Tiongha ke Batavia. Dalam sumber lain, Fokky Fuad dengan mengutip Mona Lohanda (2007) menyebutkan, Gubernur Valckenier menyerahkan masalah tersebut kepada parlemen.

Baca juga : Liga Spanyol: Bantai Sevilla, Real Madrid Kokoh Di Puncak

Hasilnya, diberlakukan resolusi pada 25 Juli 1740 M, berupa penangkapan kepada warga etnis Tionghoa yang dianggap mencurigakan, baik mereka yang telah memiliki izin tinggal maupun yang belum. Mereka yang tertangkap akan diasingkan ke Ceylon, Sri Lanka. Namun kabar yang beredar saat itu, mereka tidak sampai ke Sri Lanka, tapi dibuang di tengah laut.

Dari kabar tersebut akhirnya menimbulkan gejolak besar pada masyarakat Tionghoa, sehingga mereka mempersenjatai diri dan terjadilah pemberontakan dari etnis Tionghoa. Pada waktu bersamaan juga bertebaran isu bahwa orang-orang Tionghoa merencanakan akan membunuh etnis non-Tionghoa, memperkosa perempuan-perempuannya dan menjadikan anak-anak mereka budak orang Tionghoa.

Akibat tersebarnya isu ini, akhirnya menimbulkan kebencian terhadap orang-orang Tionghoa. Puncaknya, ada tuduhan persekongkolan antara orang-orang Tionghoa di luar benteng dan di dalam benteng Batavia, yang akan melakukan pemberontakan terhadap VOC. Hal ini mengakibatkan terjadinya kerusuhan massal, berupa pembantaian terhadap penduduk Tionghoa di dalam benteng kota Batavia.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense