Sebelumnya
Masalah visa pengoleksi 20 gelar Grand Slam itu sempat membuat Serbia meradang. Tensi hubungan Beograd-Canberra pun meningkat. PM Serbia Ana Brnabic menyebut putusan pengadilan itu sebagai sebuah "skandal".
Sementara Presiden Serbia Aleksandar Vucic menilai, Australia telah mempermalukan diri sendiri. "Djokovic bisa kembali ke negaranya dengan kepala tegak," kata Vucic.
Baca juga : Vaksin Merah Putih, Semoga Bisa Digunakan Tahun Depan
Seperti diketahui, Djokovic kehilangan kesempatannya mempertahankan gelar Australia Terbuka setelah pengadilan Australia menguatkan perintah deportasi. Tiga hakim Pengadilan Federal pada Minggu (16/1), berpihak pada keputusan Menteri Imigrasi Australia Alex Hawke yang dibuat Jumat (14/1), yang membatalkan visa Djokovic dengan alasan kepentingan umum.
Putusan itu berarti, Djokovic yang tidak divaksinasi Covid-19 akan tetap ditahan di Melbourne sampai dia dideportasi. Perintah deportasi biasanya juga mencakup larangan tiga tahun untuk kembali ke Australia.
Baca juga : Pengusaha Rayu Jokowi Supaya Anak-anak Dibolehkan Masuk Mall
Lebih lanjut, Hawke menganggap, kehadiran Djokovic di Australia dapat membahayakan kesehatan dan ketertiban publik Australia. Selain itu, kontraproduktif dengan upaya vaksinasi di Negeri Kanguru. [PYB]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.