Sebelumnya
Perang berdampak pada krisis pangan dan energi. Sejumlah analis memperkirakan, ketergantungan Eropa terhadap energi dari Rusia akan berakhir. Tanggapan Anda?
Agak sulit menjabawabnya. Tapi kita bisa melihat, kemakmuran, kesejahteraan Eropa, dan ini juga diakui secara terbuka oleh para pemimpin mereka, adalah karena bergantung pada sumber daya energi murah dari Rusia. Minyak dan gas.
Sekarang, mereka mengatakan tidak ingin lagi bergantung pada ekspor sumber daya energi murah kami, oke. Itu pilihan mereka. Jadi mereka sekarang akan bergantung pada pasokan yang sangat mahal dari Amerika Serikat. Jadi ke mana dan bagaimana ekonomi mereka, akan kita lihat. Jika berada dalam resesi, maka akan sia-sia. Tapi itu adalah pilihan Eropa. Bukan keinginan kami.
Baca juga : Sung Y Kim, Dubes AS Untuk Indonesia: Biarpun Gugur, Setia Dukung AS
Apa ada dialog khusus dengan Eropa terkait hal ini?
Yang kami usulkan ke Eropa adalah, kami selalu siap berkomitmen pada kewajiban kami. Dan sekarang mereka mencoba menimpakan semua kesalahan dalam kebijakan energi, kepada Rusia. Kami selalu memberi tahu mereka bahwa kami mendukung kontrak jangka panjang. Karena kontrak semacam ini menguntungkan kedua belah pihak. Sebagai pemasok, kami yakin akan memiliki pasar. Dan untuk pembeli, karena harga sudah fixed dalam kontrak jangka panjang.
Tapi orang Eropa akan mengatakan tidak. Mereka anggap itu bukan ekonomi pasar. Mereka bilang, kita harus memiliki kontrak spot. Tapi dengan kontrak spot, harga berfluktuasi. Itu kesalahan mereka. Dan sekarang mereka mengatakan bahwa Putin menggunakan energi sebagai senjata. Padahal itulah kebijakan Uni Eropa.
Baca juga : Frisian Flag Indonesia Luncurkan Gerakan Sarapan Keliling Penuh Nutrisi
Lantas, siapa yang akan diuntungkan?
Bukan Uni Eropa, bukan Ukraina, dan bukan Rusia. Tentu saja Amerika Serikat. Karena sekarang, ketika mereka berhasil mengganggu pasokan energi Rusia ke Eropa sampai batas tertentu. Apa alternatifnya? Energi mahal dari Amerika Serikat.
Bagaimana Anda melihat media Barat dalam memberitakan Rusia, terutama yang menyangkut invasi militer di Ukraina?
Baca juga : Peringati Bulan Bahasa, Pilih Kata Gemes
Kami melihat perang informasi melawan Rusia. Seperti yang dikatakan oleh Menteri Luar Negeri kami (Sergey Lavrov-red), ini bukan hanya perang, ini adalah terorisme informasi. Karena Anda tidak dapat melihat sesuatu jika Anda hanya melihat media Barat. Hanya satu sudut pandang yang disebarluaskan.
Anda tidak akan pernah bisa menemukan media di Barat yang akan menunjukkan pandangan Rusia tentang apa yang sedang terjadi. Media Rusia diblokir. Dan Anda bilang ini kebebasan pers? Kebebasan berbicara dipelintir. Ada begitu banyak kebohongan.
Saat ini saya berhenti menonton CNN atau BBC. Karena itu hanya berisi kebohongan, kebohongan, kebohongan. Saya tahu, karena saya sebagai orang Rusia yang lahir di Ukraina. Saya mengerti bahwa itu palsu dan bohong. Tetapi orang-orang yang tidak mengenal Rusia, mereka percaya. Dan tentu saja itu benar-benar mengerikan. Di zaman modern ini, informasi adalah instrumen yang sangat kuat. Itu tidak baru dimulai pada Februari lalu. Tapi telah terjadi bertahun-tahun yang lalu.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.