Sebelumnya
Setidaknya, langkah ini sudah dimulai sejak pertengahan 1980-an. Saat itu, jumlah pembangkit energi baru ada di 15 wilayah. “Kini, jumlahnya sudah lebih dari 150 ribu! Jadi apakah transisi energi itu mampu dilakukan, Denmark (sudah membuktikan) mampu!” tegas Hasforth.
Lebih jauh dia menjelaskan, kini 60 persen sumber energi Denmark justru dari sumber yang aman. Yakni 42 persen dari angin dan 18 persen dari biofuel, atau energi dari materi hidup seperti tanaman.
Baca juga : Kowarteg Indonesia Diapresiasi Masyarakat Surabaya
Biofuel ini juga dianggap sebagai energi terbarukan, sehingga mengurangi peran bahan bakar fosil dan telah mendapat perhatian dalam transisi ke ekonomi rendah karbon.
Sisanya, sumber energi yang kini dihasilkan Denmark adalah energi fosil (17 persen), energi air (12 persen), energi sampah (5 persen), matahari (4 persen), dan nuklir (2 persen).
Baca juga : Lestari Desak Pemerintah Serius Turunkan Angka Stunting
Dampak lanjutan transisi energi ini, masih menurut Hasforth, bisa dilihat dari jumlah emisi yang dihasilkan Denmark, dari rentangan 1990-an, bahkan diprediksi hingga 2035, grafiknya terus menurun drastis. Karena setidaknya, jenis energi yang digunakan sejak 2010 misalnya, yang tertinggi adalah dari jenis energi matahari. Diikuti energi angin, biomassa, lalu gas alam.
Ke depannya, ditargetkan hingga 2035, energi yang paling banyak digunakan adalah energi matahari, diikuti energi angin. Menariknya, kata Hasforth, saat ini biaya penggunaan energi matahari dan angin, sudah jauh lebih kompetitif dibanding harga energi minyak dan batubara.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.