Sebelumnya
Sebagai perbandingan penggunaan energi batubara untuk sumber tenaga listrik antara tiga negara, yakni Indonesia, Amerika Serikat dan Denmark sepanjang 1990 hingga 2022, pada 1990-an, AS menggunakan energi batubara di atas 50-an persen. Namun hingga 2022, grafiknya terus menurun hingga sekitar 20-an persen.
Bahkan Denmark, penggunaan energi batubaranya untuk listrik pada 1990-an, jauh lebih tinggi, sekitar 85 persen. Namun penggunaan ini terus menurun hingga pada 2022, hanya sekitar 10 persen.
Baca juga : Kowarteg Indonesia Diapresiasi Masyarakat Surabaya
Sebaliknya Indonesia, konsumsi batubara pada 1990-an saat itu berada di sekitar 30 persen. Namun grafiknya terus meningkat pada sekitar 2022, penggunaan energi batubara ini oleh Indonesia terus menanjak hingga di sekitar 60 persen.
Hasforth juga mengingatkan, sumber energi batubara tidak hanya jelek untuk sisi iklim, tapi juga kian jelek dari sisi perekonomian. Mengingat kian kompetitifnya biaya yang dibutuhkan untuk penggunaan energi baru terbarukan saat ini.
Baca juga : Lestari Desak Pemerintah Serius Turunkan Angka Stunting
Dampak positifnya, lanjut Hasforth lagi, penggunaan energi baru terbarukan yang secara masif di Denmark adalah, kadar emisi di negara itu yang terus menurun drastis.
Untuk bisa sampai di titik ini, menurutnya ada beberapa hal yang bisa dipetik dari pengalaman Denmark. Pertama, sumber energi di negaranya memang tidak sepenuhnya dimonopoli oleh negara. Tapi tumbuh pesat di kalangan masyarakat lokal. “Ini tentu perlu kesepakatan semua pihak,” tegasnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.