Sebelumnya
Selanjutnya, kami bermitra dan membantu Pemerintah Daerah setempat. Kami membawa General Electric, Tesla dan lainnya yang ingin bermitra dengan industri lokal untuk berinvestasi membangun kembali infrastruktur lokal.
Akhirnya, saya pikir ada peluang. Kita harus memikirkan cara saat ini berinvestasi di setiap komunitas di seluruh dunia. Karena ini bukan hanya pertanyaan tentang berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun infrastruktur yang lebih bersih. Tetapi bagaimana kita membelanjakan uang dengan cara berbeda.
Saya mengakui, memang perlu ada lebih banyak investasi secara keseluruhan. Dan menurut saya, perlu dilakukan bersama, baik negara besar maupun negara kecil. Itu yang kami pelajari di Hawaii. Karena kami juga tidak dapat melakukan semuanya sendiri. Kami harus memikirkan kembali cara membelanjakan uang dan berinvestasi. Dan sejauh ini, sangat berhasil. Ini menarik banyak investasi dari luar juga. Kami juga menggelontorkan dana sekitar Rp 1,5 triliun kepada masyarakat berpenghasilan rendah yang memakai tenaga surya dengan baterai, untuk kebutuhan listrik. Langkah ini setelah beberapa tahun dapat memangkas biaya hidup keluarga. Dan saya pikir itu adalah sesuatu yang bisa ditiru di tempat lain.
Bisa dijelaskan pencapaian Hawaii terkait energi terbarukan dan iklim?
Untuk listrik, kami beralih dari sekitar 92 persen berbasis bahan bakar fosil, menjadi sekitar 42 persen energi terbarukan. Yang luar biasa, kami dapat melakukannya dalam waktu yang singkat.
Kami hampir melipatgandakan jumlah energi terbarukan di jaringan listrik kami hanya dalam 10 tahun. Dan kami sekarang berada di jalur yang tepat untuk tidak hanya memenuhi mandat pada 2045 kami bisa mencapai 100 persen energi bersih. Tapi juga mungkin bisa dicapai dalam delapan atau sembilan tahun.
Baca juga : Elektrifikasi Transportasi Di Ibu Kota Baru Langkah Maju Dan Fantastis
Di sisi transportasi, yang saat ini menyumbang sekitar 60 persen dari emisi karbon, akan beralih ke elektrifikasi, tidak hanya menjadi 100 persen listrik bersih pada 2045, tetapi juga ekonomi negatif karbon pada 2045. Dengan kata lain, kami akan mengatur sektor transportasi menuju perubahan itu. Semua transportasi umum kami, bus dijadwalkan semuanya bertenaga listrik pada 2035. Saya yakin kami akan membuat kemajuan besar.
Indonesia menargetkan bebas emisi karbon pada 2060? Anda yakin Indonesia bisa mencapai target itu?
Apakah saya optimis tentang Indonesia? Ya. Saya benar-benar berpikir ada komunitas yang bagus di sini. Ada identitas yang begitu kuat sehingga banyak orang yang ingin melihat Indonesia sukses. Saya pikir kita semua di seluruh dunia juga ingin melihat Indonesia sukses. Indonesia memiliki sumber daya alam dan keindahan yang luar biasa yang hampir tidak ada di tempat lain di dunia.
Di Hawaii, orang sering menilai lautan, terumbu karang kami adalah ekosistem yang sangat unik dan menakjubkan. Tapi perlu diketahui, kami telah kehilangan lebih dari separuh terumbu karang dalam 50 tahun terakhir. Dan diperkirakan akan kehilangan hampir semuanya dalam 50 tahun ke depan. Itu karena kurangnya pengelolaan selama beberapa dekade ini.
Sekarang dengan masalah perubahan iklim dan dampak kenaikan permukaan laut, kami melihat banyak degradasi. Terumbu karang kami tidak se-perti dulu lagi. Kami memiliki populasi spesies dan ikan yang terancam punah dan menyadari bahwa jumlahnya turun hingga kurang dari 5 persen dari yang seharusnya. Itu yang sedang kita pelajari sekarang.
Saya berharap, dan optimistis bahwa di Indonesia, terutama setelah berdiskusi dengan beberapa rekan pemuda dari program YSEALI, terungkap bahwa ada sesuatu yang istimewa di sini. Serta perlu dikelola dengan baik dan dilestarikan untuk generasi mendatang. Saya pikir itu bisa dilakukan secara berbeda sebelum terlambat.
Baca juga : Indonesia Akan Masuk 10 Besar Kekuatan Ekonomi Dunia
Selain ke Wakatobi, akan kemana lagi?
Wakatobi adalah tujuan utama saya. Jadi, nanti tergantung waktu dan juga cuaca.
Selama kunjungan Anda, apakah ada rencana bertemu Senator atau pejabat Indonesia?
Saya akan bertemu dengan Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi. Saya ingin menyampaikan beberapa masalah, seputar iklim dan lingkungan. Bagaimana menghadapi hal itu, dengan melibatkan komunitas dan pemuda kita. Bagaimana belajar dari pengalaman dan banyak tantangan yang telah mereka atasi. Mudah-mudahan, ini adalah awal dari kemitraan dan percakapan yang sangat baik.
Oh iya, Presiden Barack Oba-ma juga dari Hawaii. Apa yang dia lakukan terkait Hawaii?
Ya, beliau dari Hawaii, dan tentunya juga berasal dari Jakarta. Kami melakukan banyak pekerjaan dengan Presiden Obama saat beliau menjabat. Salah satu hal yang perlu anda tahu, kami telah mencoba melakukan hal yang kami lihat dari Indonesia, bagaimana bekerja mengelola wilayah laut dan pesisir.
Baca juga : Cek Sampah Di Bali, Siti Nurbaya Optimis Target Zero Waste 2030 Tercapai
Presiden Obama bekerja menciptakan kawasan lindung terbesar di dunia, yang merupakan sekumpulan pulau di lepas pantai Hawaii bernama Papahanaumokuakea. Wilayah itu membentang dari Kepulauan Hawaii utama hingga sepanjang 1.000 mil di Pasifik. Semua wilayah itu dilindungi. Sekarang menjadi suaka laut nasional. Di sana, ada berbagai spesies yang tidak ada di tempat lain di dunia.
Di bawah kepemimpinan Presiden Obama, kami mencari cara untuk mengelolanya dengan lebih baik. Saya pikir itu adalah sesuatu yang kita semua bisa pelajari. Karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang begitu spektakuler, tidak seperti di tempat lain.
Apakah Anda pernah bertemu Presiden Obama?
Saya telah beberapa kali bertemu. Beliau orang yang luar biasa dan sangat membumi. Kita bisa ngobrol dari hal berat seperti kebijakan diplomatik internasional tingkat tinggi, hingga ngobrol soal olahraga atau hal lainnya. [PYB/MEL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.