RM.id Rakyat Merdeka - Menjelang pemilihan pendahuluan (primary) di Negara Bagian News Hampshire, 23 Januari, kandidat Capres Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik Nikki Haley menyerang Donald Trump. Dia meragukan kondisi kesehatan pengusaha properti tersebut, bisa menjalani tugas sebagai Presiden.
Haley mempertanyakan kesehatan otak Trump, setelah terlihat keliru menyebut namanya merujuk ke mantan Ketua DPR AS Nancy Pelosi. Saat itu, Trump tengah berkampanye di Manchester, kota di New Hampshire, Jumat (19/1/2024). Taipan real estate itu berbicara tentang serangan pendukungnya ke gedung Kongres, Capitol Hill pada 6 Januari 2021.
“Dia (Trump) terlihat linglung. Dia membicarakan Nancy Pelosi,” ujar Haley saat berkampanye, Sabtu (20/1/2024), di Keene, New Hampshire.
Baca juga : Dapil Kalimantan Selatan I: Medan Tempur Garuda Vs Banteng
“Namun Trump menyebut nama saya berkali-kali. Kekhawatiran saya adalah apakah dia bisa menghadapi tekanan sebagai presiden dalam kondisi seperti itu?” sindir Haley.
Selain sulit membedakan antara Haley dan Pelosi, Haley juga menyoroti kesenjangan usianya dengan Trump, yang berusia 77 tahun, dan Presiden Joe Biden, yang berusia 81 tahun. Mantan Gubernur California itu juga bersikeras perlunya pembatasan masa jabatan dan tes kompetensi mental bagi politisi yang berusia di atas 75 tahun.
Menanggapi pernyataan Haley, tim kampanye Trump tidak ambil pusing.
Baca juga : Penumpang Jengkel Dan Bingung
“Apa bedanya. Yang satu namanya Nikki dan satu lagi namanya Nancy. Tidak beda jauh,” ujar penasihat kampanye Trump, Chris LaCivita, ngeles, dikutip New York Times, Minggu (21/1/2024).
Trump menambahkan, dia sudah melakukan tes kekuatan otak sebelum memulai kampanye beberapa bulan lalu. “Hasilnya sangat bagus. Saya rasa otak saya jauh lebih kuat dari pada 25 tahun lalu,” klaim Trump.
Setelah menempati posisi ketiga di Iowa di belakang Gubernur Florida Ron DeSantis, kampanye Haley dipertaruhkan di New Hampshire. Menurut jajak pendapat di New Hamshire, Haley berada di posisi kedua setelah Trump. Sementara DeSantis di posisi ketiga.
Baca juga : Prabowo Ketemu Pemain Bola, Anies-Ganjar Terus Kampanye
Dalam jajak pendapat Decision Desk HQ dan The Hill, DeSantis berada di posisi ketiga di New Hampshire dengan 9,4 persen, lebih dari 44 poin di belakang Trump, yang berada di posisi 53,7 persen. Sementara Haley, yang ingin mengkonsolidasikan para pemilih independen dan “tidak pernah memilih Trump” di urutan kedua dengan 25,3 persen.
Berbeda dengan Haley, DeSantis lebih gencar kampanye untuk primary California pada Februari mendatang. Dilansir CBS News tujuan dari kampanye DeSantis adalah untuk menekan Haley, dan membuat persainganhanya antara dirinya dan Trump.
Namun Haley tidak menganggap DeSantis lawan kuat. Trump baru-baru ini meramalkan, DeSantis akan segera kehabisan uang dan keluar dari pencalonan. Sementara Haley mengatakan, tidak lagi fokus pada DeSantis setelah kaukus Iowa, 15 Januari lalu.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.