Sebelumnya
Jadi perdamaian akan sulit terwujud?
Bukannya Rusia yang tidak mau berdamai. Tapi Ukraina dan sponsornya yang enggan berdamai. Mereka lebih memilih mempersenjatai pasukan Ukraina. Tanpa bantuan Barat, pasukan Ukraina sudah lama kalah oleh Rusia.
Barat terus memberikan amunisi, melatih pasukan Ukraina, memberikan informasi dan banyak lagi, demi mempertahankan krisis ini.
Menurut Anda, apa agenda yang dimainkan Barat?
Baca juga : Forum Rektor Indonesia Serukan Pemilu Damai Dan Aman, Demi Menjaga Persatuan
Sebenarnya Rusia dan Ukraina memiliki keterikatan. Jika krisis ini berlanjut, 30 tahun dari sekarang, akan sangat mudah mencuci otak generasi muda dengan memposisikan Rusia sebagai pihak yang salah, yang membuat kekacauan.
Barat menggelontorkan miliaran dolar untuk membuat warga Ukraina berpikir bahwa Rusia adalah musuh mereka. Ini sangat disayangkan. Melihat sejarah yang ada, Amerika Serikat tidak pernah memperlakulan sekutu mereka dengan baik. Coba lihat Afghanistan, Irak atau Yugoslavia. Kerusakan yang terjadi di sana dianggap sebagai kerusakan sampingan yang tidak dianggap. Kami tidak tega melihat Ukraina dianggap seperti itu.
Melihat kekacauan di Gaza, kenapa Rusia tidak mengirimkan pasukannya dan membantu rakyat Palestina melawan Israel?
Kami selalu berupaya menyelesaikan masalah dengan jalan damai lewat dialog. Sekali lagi kami sadar, bahwa kekacauan ini tidak akan terjadi jika AS tidak ikut campur. Ini adalah alasan kenapa masalah ini tidak kunjung usai.
Baca juga : Antusias Warga Lihat Jokowi-Prabowo Makan Bakso Bareng: Semoga Tetap Merakyat
Tidak ada solusi terbaik untuk memecahkan masalah di Gaza dengan menggunakan solusi dua negara. AS tidak menerima ini. Padahal, ini satu-satunya cara mendapatkan kedamaian di sana. Kami mendukung solusi ini dan terus menyinggung ini di PBB. Tapi AS terus mendukung Israel.
Siapa yang diuntungkan dari semua kekacauan ini?
Amerika Serikat. Krisis Ukraina membuat negara-negara di Eropa memutuskan untuk tidak lagi membeli gas murah dari Rusia. Mereka kini terpaksa membeli gas alam mahal dari Amerika Serikat. Coba tebak siapa yang membuat dan mendistribusikan senjata dan amunisi perang. Amerika Serikat. Jadi, semua ini soal keuntungan bisnis semata.
Apakah Rusia tidak kewalahan dengan banyak sanksi dari Barat?
Baca juga : Dubes RI Untuk Venezuela Edy Mulyono Saksikan Penandatanganan MoU Kerja Sama Migas
Sejak Crimea bergabung dengan Rusia pada 2014, kami mulai menerima sanksi dari Barat. Saat itu juga kami mulai memenuhi kebutuhan sendiri. Misalnya gandum. Kami bisa memenuhi kebutuhan gandum dalam negeri hingga mampu menjualnya ke negara lain. Kami juga berhasil memenuhi kebutuhan daging sapi dan ayam hingga surplus dan harus dijual ke negara sahabat. Ini semua berkat sanksi. Kami melihat ini sebagai sebuah anugerah tersembunyi. LDU/DAY
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak edisi Rabu, 7 Februari 2024 dengan judul "Duta Besar Rusia Untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva, Dibombardir Sanksi Barat, Ekonomi Rusia Tetap Kuat"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.