Sebelumnya
Pembangunannya dimulai tahun 2011 dan diperkirakan kelar tahun ini. Bendungan itu memanfaatkan aliran air dari hulu Sungai Nil. Dan memicu protes dari dua negara yang berada di hilir sungai tersebut. Mesir dan Sudan.
Mesir khawatir, bendungan itu akan merusak kehidupan di sekitar Sungai Nil di Mesir. “Tapi tampaknya Ethiopia tidak akan mundur. Karena merasa berhak mengelola sumber dayanya,” ujar Al.
Baca juga : Supremasi Kulit Putih dan Wabah Corona Jadi Isu Penentu Pilpres AS
Perubahan lain juga terlihat pada sistem transportasi di negara tersebut. Bahkan, sistem LRT telah 8-9 tahun lebih dulu daripada Jakarta. Jalan tol pun bukan barang langka. 80 persen jalanan di negara itu juga sudah mulus.
“Pemerintahnya memang memikirkan, untuk meningkatkan ekonomi, transportasi harus dibenahi,” terangnya.
Baca juga : Unisba Blitar Bidik Potensi Investasi Ethiopia dan Afrika
Kemajuan yang dialami Ethiopia juga turut mengundang minat investasi. Termasuk dari Indonesia. Sejauh ini sudah ada lima perusahaan Indonesia yang berinvestasi di negara itu. Dan dua perusahaan lainnya sedang dalam tahap penjajakan.
“Misi dagang kedua negara juga saling berkunjung. Dan, rencananya akan ada 30 kawasan industri di Ethiopia,” beber Al.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.