RM.id Rakyat Merdeka - Stabilitas di kawasan turut jadi bahasan Menteri Luar Negeri Indonesia dalam East Asia Summit (EAS) atau KTT Asia Timur. Dalam pertemuan itu, Menlu Retno LP Marsudi memaparkan hal-hal yang harus dilakukan untuk mencapai hal tersebut.
Retno mengatakan, yang pertama adalah EAS harus menjadi kekuatan positif bagi perdamaian dan stabilitas kawasan. Selain itu, kata dia, Indonesia juga menyerukan pentingnya semua pihak menghormati hukum internasional.
Baca juga : Menteri Agama Tak Emosi
Menurut Retno, rivalitas tidak akan menguntungkan siapapun. Indonesia, kata dia, justru mendorong, agar energi yang dimiliki, difokuskan untuk meningkatkan kerja sama. Termasuk melalui ASEAN Outlook on The Indo Pacific."Dan tidak menggunakan kekerasan serta menyelesaikan masalah secara damai," kata Retno saat memberikan keterangan secara virtual, Rabu malam (9/9).
Kemudian yang kedua, Retno menyampaikan bahwa EAS harus memberikan kontribusi bagi upaya meningkatkan resiliensi kesehatan kawasan. Menurut dia, dalam jangka pendek hal ini dapat diterjemahkan melalui jaminan akses terhadap vaksin yang aman, dan dengan harga murah. Apalagi jika mengingat, negara-negara EAS banyak yang terlibat dalam pengembangam vaksin. "Maka sebenarnya terbuka pintu bagi kerja sama di bidang vaksin ini," ujarnya.
Baca juga : Langgar Protokol Kesehatan, Mendagri Semprit 50 Kepala Daerah
Dan yang ketiga, kata Retno adalah mengenai Laut China Selatan. Retno mengatakan, dalam pertemuan EAS, Indonesia menekankan kembali mengenai pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional termasuk UNCLOS 1982. Katanya, hanya dengan menghormati hukum internasional maka Laut China Selatan, akan menjadi laut yang damai dan stabil.
Sebelumnya, ketegangan masih berlanjut antar negara adidaya, China dengan Amerika Serikat (AS). Memicu ketakutan Perang Dunia III di wilayah Laut China Selatan. Beijing telah meluncurkan rudal jarak menengah ke Laut China Selatan sebagai peringatan keras kepada AS, Rabu (26/8). Tembakan rudal itu dilakukan China sehari setelah China mengatakan pesawat mata-mata U-2 AS memasuki zona larangan terbang tanpa izin.
Baca juga : Bamsoet Dorong Pemerintah Gerak Cepat Amankan Bahan Baku Vaksin Corona
EAS merupakan forum regional terbuka di kawasan Asia Timur. Forum yang terbentuk pada 2005 ini awalnya beranggotakan 16, yakni 10 negara ASEAN, Australia, China, India, Jepang, Republik Korea dan Selandia Baru. AS dan Federasi Rusia resmi bergabung menjadi peserta EAS pada KTT ke-6 EAS di Bali, November 2011. Kini total anggota adalah 18 negara.[PYB]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.